Wednesday, September 23, 2009

Sejarah kekeliruan Dinasti Saud

By : Fadhli Yafas




Kekeliruan yang dilakukan pendiri Dinasti Saud terkait dengan pendirian negara kaumiyah Saudi arabia sesungguhnya telah jamak diketahui oleh bebagai pihak. Beberapa tulisan telah menjelaskan hal tersebut. Tapi kemudian para muqallidin dinasti saud melakukan bantahan-bantahan dan menganggap sumber dari tulisan tersebut berasal dari orang kafir. Maka mari kita lihat dari apa yang ditulis sendiri oleh pihak Saudi.

Ada sedikit sejarah ttg pendirian dari kerajaan saudi di link ini : http://www.saudiembassy.net/Country/History.asp


Link tsb adalah situs resmi kedubes saudi arabia di Amerika. Dalam tulisan itu tercantum :

“Muhammad bin Abdul Wahhab and Muhammad bin Saud formed an agreement to dedicate themselves to restoring the pure teachings of Islam to the Muslim community. In that spirit, bin Saud established the First Saudi State, which prospered under the spiritual guidance of bin Abdul Wahhab, known simply as the Shaikh”

Monday, March 16, 2009

Meng-Ibadahi Manusia

Oleh : Fadhli Yafas


Tersebutlah para Rahib. Walaupun telah sampai pada mereka keterangan dari Allah, mereka tetap melakukan penyimpangan dimana mereka mengharamkan yang di halalkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah.

Sistem kerahiban sempat pula mendominasi masyarakat Eropa hingga abad pertengahan. Kuasa yang mereka miliki luar biasa, termasuk membuat aturan-aturan yang hatus dipatuhi oleh rakyat kala itu. Kekuasaan yang mereka miliki kerap digunakan untuk menindas orang-orang yang tidak mematuhi mereka.

Inilah yang disebut Rasulullah ketika beliau menjelaskan tentang Surat At Taubah Ayat 31. Penjelasan ini terkait dengan kondisi seorang shahabat Rasulullah ‘Adi bin Hatim yang sebelumnya beragama nashrani. Hal ini tercantum dalam tafsir Ibnu Katsir :

Ayat-Ayat Khamr

Oleh : Fadhli Yafas


Beberapa pihak menyebutkan bahwa tadarruj adalah salah satu metode yang ma’ruf (dikenal) dan memiliki legitmasi dalam Islam. Tadarruj adalah menerapkan Islam secara bertahap. Dalam konteks, penganut pemikiran ini menetapkan bahwa tidak mengapa kita tidak langsung menerapkan hukum Allah secara total. Dalam ucapan lain disebutkan juga bahwa tidak mengapa atas ummat ini tidak langsung diterapkan hukum Allah, hatta setelah kekuasaan diraih.

Dalam aplikasi lain kemudian berkembang sikap bahwa dalam pentahapan itu dibolehkan pula ridha dan terlibat langsung dengan system yang tidak Islami yang berlangsung. Semua ungkapan ini berasal dari keyakinan bahwa tidak mungkin manusia langsung menerima hukum Allah secara langsung. Dan salah satu legitimasi yang sering digunakan adalah bahwa ketika Allah mengharamkan khmar, Allah tidak langsung mengharamkan. Keharaman khamr menurut mereka baru ditetapkan pada seruan ketiga yaitu pada QS Al Maidah : 90, sementara dua ayat yang lain yaitu QS Al Baqarah : 219 dan QS Annisa’ : 43, menurut mereka belumlah mengharamkan khamr. Semua itu menurut mereka, mustahil manusia mampu langsung merubah kebiasaannya. Benarkah seperti itu?

Friday, October 10, 2008

Menulis Fiksi = Berbohong ! (Sebuah sudut pandang praktisi)

Beberapa bulan yang lalu saya sempat menulis tentang "Membuat fiksi = berbohong?". Sebuah tulisan yang dimaksudkan hanya untuk mendalami fakta tentang fiksi dan kemungkinan tinjauan dari sudut pandang Islam. Ndak berapa setelah saya nulis bahasan tersebut Kompas Minggu, 24 Agustus 2008 menurunkan tulisan Hamsad Rangkuti,Seorang Budayawan dan Cerpenis, yang terdapat isi tulisannya menyebutkan sastra adalah berbohong. Tulisan lengkap dapat dilihat di http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/24/01192460/akrobat.kata-kata.kebohongan.dan.f.rahardi. Disini saya hanya akan mengutip tentang sastra dan kebohongan.



Akrobat Kata-kata, Kebohongan, dan F Rahardi


..Terakhir, dan ini penting, adalah soal kebohongan dalam sastra. Saya pernah mengemukakan bahwa ”sastra = kebohongan”. F Rahardi sebagaimana dia katakan pernah ”meluruskan” (sumpah, kata ”meluruskan” ini dari Rahardi sendiri lho). Maka, ketika penerbit meminta saya memasukkan tulisan Rahardi di buku saya, saya setuju saja agar semua orang bisa membaca tindakan ”meluruskan” itu yang tentu saja tidak ada gunanya. Saya sampai sekarang tetap beranggapan bahwa ”sastra = kebohongan”, dan semua orang saya kira paham maksudnya. Betulkah saya harus menjelaskan kepada Rahardi bahwa kata kebohongan di sana adalah kiasan, perumpamaan, dan sebagainya. Sebagai bukan orang sekolahan yang tak paham teori-teori, saya menyebutkan bahwa sastra = kebohongan.
Meskipun banyak bagian dalam sastra berakar atau mengacu pada kenyataan, sastra adalah fiksi alias kebohongan. Tentu saja kalau saya katakan kebohongan, maka tidak ada kaitannya dengan kebohongan para petinggi atau politisi yang gemar korupsi serta menebar janji palsu. Apakah Sukri benar-benar membawa pisau belati seperti yang digambarkan dalam cerpen saya ”Sukri Membawa Pisau Belati” sama sekali tidak penting. Apakah Garin tua dalam ”Robohnya Surau Kami” AA Navis benar-benar ada dan benar-benar membunuh dirinya gara-gara kata-kata Ajo Sidi, sama sekali tidak penting. Sastra bagi saya adalah sebuah kebohongan kreatif, kebohongan yang indah untuk mengajak pembaca melihat kenyataan dengan lebih baik lagi. Putu Wijaya pernah mengatakan bahwa karya-karyanya adalah sebuah Teror dan F Rahardi menulis Pidato Akhir Tahun Seorang Germo. Bagi saya kedua ungkapan itu bukan fakta. Sebagai seorang sastrawan, saya mengaku dengan jujur bahwa ”sastra = kebohongan” dan saya tidak perlu tersipu atau pura-pura alim untuk membuat macam-macam argumentasi moral yang baik-baik untuk menutupinya atau sekadar ”meluruskannya”. Itu sebabnya, saya tidak pernah menganggap F Rahardi seorang germo karena toh karya sastra = kebohongan. Entah kalau Rahardi sendiri menganggap bahwa dia tidak berbohong dan dirinya memang benar-benar germo.
Sudah ah, saya mau kembali berbohong, eh menulis karya sastra, kebohongan yang indah.

Hamsad Rangkuti Cerpenis, Pemenang Khatulistiwa Award, Penghargaan Khusus Kompas 2001, Mantan Pemred Horison