Beberapa bulan yang lalu saya sempat menulis tentang "Membuat fiksi = berbohong?". Sebuah tulisan yang dimaksudkan hanya untuk mendalami fakta tentang fiksi dan kemungkinan tinjauan dari sudut pandang Islam. Ndak berapa setelah saya nulis bahasan tersebut Kompas Minggu, 24 Agustus 2008 menurunkan tulisan Hamsad Rangkuti,Seorang Budayawan dan Cerpenis, yang terdapat isi tulisannya menyebutkan sastra adalah berbohong. Tulisan lengkap dapat dilihat di http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/24/01192460/akrobat.kata-kata.kebohongan.dan.f.rahardi. Disini saya hanya akan mengutip tentang sastra dan kebohongan.
Akrobat Kata-kata, Kebohongan, dan F Rahardi
..Terakhir, dan ini penting, adalah soal kebohongan dalam sastra. Saya pernah mengemukakan bahwa ”sastra = kebohongan”. F Rahardi sebagaimana dia katakan pernah ”meluruskan” (sumpah, kata ”meluruskan” ini dari Rahardi sendiri lho). Maka, ketika penerbit meminta saya memasukkan tulisan Rahardi di buku saya, saya setuju saja agar semua orang bisa membaca tindakan ”meluruskan” itu yang tentu saja tidak ada gunanya. Saya sampai sekarang tetap beranggapan bahwa ”sastra = kebohongan”, dan semua orang saya kira paham maksudnya. Betulkah saya harus menjelaskan kepada Rahardi bahwa kata kebohongan di sana adalah kiasan, perumpamaan, dan sebagainya. Sebagai bukan orang sekolahan yang tak paham teori-teori, saya menyebutkan bahwa sastra = kebohongan.
Meskipun banyak bagian dalam sastra berakar atau mengacu pada kenyataan, sastra adalah fiksi alias kebohongan. Tentu saja kalau saya katakan kebohongan, maka tidak ada kaitannya dengan kebohongan para petinggi atau politisi yang gemar korupsi serta menebar janji palsu. Apakah Sukri benar-benar membawa pisau belati seperti yang digambarkan dalam cerpen saya ”Sukri Membawa Pisau Belati” sama sekali tidak penting. Apakah Garin tua dalam ”Robohnya Surau Kami” AA Navis benar-benar ada dan benar-benar membunuh dirinya gara-gara kata-kata Ajo Sidi, sama sekali tidak penting. Sastra bagi saya adalah sebuah kebohongan kreatif, kebohongan yang indah untuk mengajak pembaca melihat kenyataan dengan lebih baik lagi. Putu Wijaya pernah mengatakan bahwa karya-karyanya adalah sebuah Teror dan F Rahardi menulis Pidato Akhir Tahun Seorang Germo. Bagi saya kedua ungkapan itu bukan fakta. Sebagai seorang sastrawan, saya mengaku dengan jujur bahwa ”sastra = kebohongan” dan saya tidak perlu tersipu atau pura-pura alim untuk membuat macam-macam argumentasi moral yang baik-baik untuk menutupinya atau sekadar ”meluruskannya”. Itu sebabnya, saya tidak pernah menganggap F Rahardi seorang germo karena toh karya sastra = kebohongan. Entah kalau Rahardi sendiri menganggap bahwa dia tidak berbohong dan dirinya memang benar-benar germo.
Sudah ah, saya mau kembali berbohong, eh menulis karya sastra, kebohongan yang indah.
Hamsad Rangkuti Cerpenis, Pemenang Khatulistiwa Award, Penghargaan Khusus Kompas 2001, Mantan Pemred Horison
Disclaimer : Ini adalah blog pribadi, tidak terkait secara struktural dengan organisasi manapun.
Friday, October 10, 2008
Monday, July 14, 2008
Membuat fiksi = Berbohong?
Belakangan semakin marak aktivitas penulisan dan pembuatan berbagai model fiksi baik dalam bentuk novel, sinetron, cerpen dsb.
Fiksi pun kemudian laris digunakan sebagai wasilah da’wah. Berbagai kisah dan cerita ”islami” kemudian dibuat. Film, novel dan cerpen yang disebut-sebut ”mengemban misi da’wah” jamak ditemui dengan mudah. Bahkan salah satu film fiksi Islami termasuk ditonton paling banyak sepanjang sejarah perfilman Indonesia. Maka kemudian fiksi Islam membuat sebuah segmen pemasaran yang tidak dapat diremehkan. Kapitalisasi rupiahnya yang menggiurkan membuat para pemodal dunia hiburan berlomba-lomba merancang cerita Islami. Namun ada hal yang mendasar yang belum terselesaikan : bagaiman pandangan Islam terhadap pembuatan cerita fiksi? Bagi ’alim seperti DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan dalam link ini menulis cerita fiksi adalah haram. Kapasitas saya dalam tulisan ini bukan hendak merumuskan hukum atau fiqh tentang cerita fiksi. Saya hanya mencoba melakukan pendalaman terhadap cerita fiksi.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php) fiksi disebut sebagai : 1 Sas cerita rekaan (roman, novel, dsb); 2 rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan. Sementara dalam wikipedia disebutkan : Fiction is the telling of stories which are not real. Semuanya mendefinisikan tentang ketidaknyataan, tentang ketiadaan fakta. Kalau mau dilihat definisi ini mirip dengan definisi kabar bohong (. كذب الخبر) dalam kitab ta’rifat yang ditulis Imam Jurjani dimana beliau mendefinisikan : عدم مطابقته للواقع
Ketiadaan fakta yang sesuai. Gampangnya cerita atau kabar yang tidak ada faktanya..
Dari sini ada sebuah indikasi bahwa pembuatan cerita fiksi adalah perekaan tentang sesuatu yang tidak ada faktanya. Dikantor, di warung, dan dalam ringkup pergaulan lain sering kita bercanda dan kemudian seseorang teman menceritakan sesuatu yang tidak ada faktanya. Semisal ketika si Badu bercerita bahwa dia adalah menantunya Presiden SBY. Maka para audience akan segera menyebut si Badu sebagai pembual, pembohong, tukang ngawaduk (sunda : bohong) dsb. Karena faktanya menantunya Presiden SBY adalah Annisa Pohan yang wanita itu. Indikasi semakin kuat bagi saya, membuat cerita fiksi adalah membuat kebualan, kebohongan, kewadukan, sehingga pelakunya tersebut sebagai pembual, pembohong dan pewaduk (maksa banget..kekekekeke). Ups..saya bukan menetapkan hukum, saya hanya menjalin sebuah indikasi.
Belum lagi kalau kita baca-baca fiksi ”Islami” atau nonton Sinetron/Film Islami, kemungkinan besar kita akan bersua dengan plot-plot cerita yang melibatkan Allah ta’ala. Seorang yang miskin kemudian jadi kaya, seorang preman kemudian jadi shaleh, pertemuan antara pria dan wanita yang berjauhan yang kemudian menjadi pasangan hidup dll, semuanya banyak yang melibatkan Allah. Pertanyaannya adalah, dalam konteks cerita di fiksi tersebut betulkah kejadian dalam plot cerita itu adalah peran Allah? Bukankah itu adalah rekaan penulis dan pembuat cerita? Dalam konteks ketetapan Allah ta’ala dikenallah istilah qadha, maka betulkah pernah ada qadha Allah seperti yang diplotkan dalam cerita fiksi tersebut? Dan ketika Allah ta’ala dilibatkan dalam suatu plot cerita apakah sudah ada izin dari Allah ta’ala? Untuk pertanyaan yang terakhir ini bagi saya agak serius. Ketika dalam suatu hadits Rasulullah menjamin neraka bagi orang yang menisbatkan suatu perkataan yang tidak pernah beliau sebutkan kepada beliau, lalu kira-kira bagaimana dengan orang-orang yang menisbatkan suatu kejadian/qadha palsu kepada Allah ta’ala? Wallahu a’lam.
Sekali lagi ini bukan fiqh tentang fiksi, masih jauh. Semoga ada ’alim yang singgah dan membaca tulisan ini kemudian membuat klarifikasinya.
Wallahu a’lam
Fiksi pun kemudian laris digunakan sebagai wasilah da’wah. Berbagai kisah dan cerita ”islami” kemudian dibuat. Film, novel dan cerpen yang disebut-sebut ”mengemban misi da’wah” jamak ditemui dengan mudah. Bahkan salah satu film fiksi Islami termasuk ditonton paling banyak sepanjang sejarah perfilman Indonesia. Maka kemudian fiksi Islam membuat sebuah segmen pemasaran yang tidak dapat diremehkan. Kapitalisasi rupiahnya yang menggiurkan membuat para pemodal dunia hiburan berlomba-lomba merancang cerita Islami. Namun ada hal yang mendasar yang belum terselesaikan : bagaiman pandangan Islam terhadap pembuatan cerita fiksi? Bagi ’alim seperti DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan dalam link ini menulis cerita fiksi adalah haram. Kapasitas saya dalam tulisan ini bukan hendak merumuskan hukum atau fiqh tentang cerita fiksi. Saya hanya mencoba melakukan pendalaman terhadap cerita fiksi.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php) fiksi disebut sebagai : 1 Sas cerita rekaan (roman, novel, dsb); 2 rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan. Sementara dalam wikipedia disebutkan : Fiction is the telling of stories which are not real. Semuanya mendefinisikan tentang ketidaknyataan, tentang ketiadaan fakta. Kalau mau dilihat definisi ini mirip dengan definisi kabar bohong (. كذب الخبر) dalam kitab ta’rifat yang ditulis Imam Jurjani dimana beliau mendefinisikan : عدم مطابقته للواقع
Ketiadaan fakta yang sesuai. Gampangnya cerita atau kabar yang tidak ada faktanya..
Dari sini ada sebuah indikasi bahwa pembuatan cerita fiksi adalah perekaan tentang sesuatu yang tidak ada faktanya. Dikantor, di warung, dan dalam ringkup pergaulan lain sering kita bercanda dan kemudian seseorang teman menceritakan sesuatu yang tidak ada faktanya. Semisal ketika si Badu bercerita bahwa dia adalah menantunya Presiden SBY. Maka para audience akan segera menyebut si Badu sebagai pembual, pembohong, tukang ngawaduk (sunda : bohong) dsb. Karena faktanya menantunya Presiden SBY adalah Annisa Pohan yang wanita itu. Indikasi semakin kuat bagi saya, membuat cerita fiksi adalah membuat kebualan, kebohongan, kewadukan, sehingga pelakunya tersebut sebagai pembual, pembohong dan pewaduk (maksa banget..kekekekeke). Ups..saya bukan menetapkan hukum, saya hanya menjalin sebuah indikasi.
Belum lagi kalau kita baca-baca fiksi ”Islami” atau nonton Sinetron/Film Islami, kemungkinan besar kita akan bersua dengan plot-plot cerita yang melibatkan Allah ta’ala. Seorang yang miskin kemudian jadi kaya, seorang preman kemudian jadi shaleh, pertemuan antara pria dan wanita yang berjauhan yang kemudian menjadi pasangan hidup dll, semuanya banyak yang melibatkan Allah. Pertanyaannya adalah, dalam konteks cerita di fiksi tersebut betulkah kejadian dalam plot cerita itu adalah peran Allah? Bukankah itu adalah rekaan penulis dan pembuat cerita? Dalam konteks ketetapan Allah ta’ala dikenallah istilah qadha, maka betulkah pernah ada qadha Allah seperti yang diplotkan dalam cerita fiksi tersebut? Dan ketika Allah ta’ala dilibatkan dalam suatu plot cerita apakah sudah ada izin dari Allah ta’ala? Untuk pertanyaan yang terakhir ini bagi saya agak serius. Ketika dalam suatu hadits Rasulullah menjamin neraka bagi orang yang menisbatkan suatu perkataan yang tidak pernah beliau sebutkan kepada beliau, lalu kira-kira bagaimana dengan orang-orang yang menisbatkan suatu kejadian/qadha palsu kepada Allah ta’ala? Wallahu a’lam.
Sekali lagi ini bukan fiqh tentang fiksi, masih jauh. Semoga ada ’alim yang singgah dan membaca tulisan ini kemudian membuat klarifikasinya.
Wallahu a’lam
Friday, June 13, 2008
Koboi dari AKKBB
Munarman dan anggota laskar sering bicara, kalau pihak AKKBB memulai insiden Monas melalui provokasi yang mereka lakukan. Salah satunya adalah pamer senjata api yang dilakukan oleh pihak peserta aksi AKKBB. Namun pihak AKKBB selalu menyangkal. Namun dengan adanya foto dibawah ini, masihkah AKKBB berkelit?
Friday, May 23, 2008
Penguasa Ingkar Janji
Dagelan dipertontonkan oleh para penguasa negeri ini. Semuanya diawali oleh iklan "peduli" rakyat yang dilakoni Wiranto. Dalam iklannya Wiranto menuntut agar SBY menepati janjinya untuk tidak menaikkan harga BBM tahun ini (2008). Maka langsunglah kalang kabut para pembantu Presiden. Hatta Rajasa dengan sangat yakin menyebutkan bahwa SBY tidak pernah berjanji untuk tidak menaikkan harga BBM.
Kenyataan berkata lain. Metro TV kemudian menayangkan bagaimana SBY menyebutkan tidak akan ada kenaikan BBM tahun 2008.
Belum sempat liat tayangan metro TV tsb? jangan khawatir, silahkan download file janji sby ini. File dalam format rm yang hanya bisa diputar pakai sofware real player. Belum punya filenya? download saja di http://uk.real.com/player/win/
Kenyataan berkata lain. Metro TV kemudian menayangkan bagaimana SBY menyebutkan tidak akan ada kenaikan BBM tahun 2008.
Belum sempat liat tayangan metro TV tsb? jangan khawatir, silahkan download file janji sby ini. File dalam format rm yang hanya bisa diputar pakai sofware real player. Belum punya filenya? download saja di http://uk.real.com/player/win/
Tuesday, May 13, 2008
KENAIKAN HARGA BBM:KEBIJAKAN TEPAT PENYELAMATAN EKONOMI?
Tepatkah kebijakan kenaikan harga BBM? Dr. Hendri Saparini, ekonom dari Econit dan Tim Indonesia Bangkit menyarikan pemikiran beliau dalam sebuah presentasi yang berjudul : KENAIKAN HARGA BBM:KEBIJAKAN TEPAT PENYELAMATAN EKONOMI? Klik tulisan ini untuk download presentasi beliau
Subscribe to:
Posts (Atom)