Dengan mantap juragan wapres JK mengatakan bahwa Indonesia tidak akan meniru baik Pakistan maupun Bolivia, dimana Pakistan manut pada Amerika sementara Bolivia anti Amerika (Kompas 22 Mei 2007).
Bebas aktif, itulah model politik yang sejak SD saya denger dari guru saya, politik yang menjelaskan posisi Indonesia di dunia internasional yaitu bebas, tidak ikut blok manapun, dan aktif dimana Indonesia aktif untuk mengupayakan terciptanya perdamaian dunia.
Tapi sejatinya, politik kayak begini ndak pernah betul-betul terjadi. Sejak zaman Soeharto jadi Presiden kecenderungan negara Indonesia adalah sebagai pemihak kepentingan negara-negara Kapitalis seperti Amerika dan Inggris. Sejak berkuasa Soeharto sudah mempersilahken perusahaan-perusahaan negara tersebut untuk mengambil sebanyak-banyaknya kekayaan alam Indonesia, Freeport dan Caltex adalah contoh pemain lama yang mengeruk kekayaan alam negeri ini.
Kebebasan Indonesia sejak dulu sudah dipasung oleh negara-negara tersebut melalui mekanisme hutang luar negeri yang bejibun. Setiap upaya menentang kehendak negara Barat berarti jatah hutang bakal dikurangi.
Bukan hanya dalam ekonomi, dalam militer pun negeri kita ini di set untuk menekuk lutut dihadapan Amerika, Negeri ini dibikin tergantung dengan berbagai peralatan dan pelatihan militer dari Amerika. Dan negeri ini akhirnya ndak pernah mampu bikin alat pertahanan militer yang canggih, tengok aja, gak sedikit besi yang dipakai sebagai sistem persenjataan sebenarnya lebih layak dilego ke juragan madura buat dikiloin. Padahal dari dulu sudah ada yang namanya PINDAD, perusahaan negara yang berkosentrasi untuk bikin persenjataan.
Berganti Presiden gak otomatis membuat ketergantungan ini pupus. Tercatat sudah berkali-kali ganti penguasa mulai dari Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY, ketergantungan sama Amerika dan negara Kapitalis malah semakin meningkat. Penghentian kucuran untuk industri strategis PT. DI, penghentian subsidi pendidikan, privitasi BUMN, kenaikan harga BBM dan privitasasi Sumber Daya Air adalah contoh nyata ketaatan penguasa negeri ini terhadap tekanan negara barat kapitalis.
Dan sesungguhnya ketaklukan Indonesia kepada negara Barat sebenarnya lebih parah dibanding Pakistan. Kalau Pakistan berkhidmat secara utama kepada Amerika, kalau Indonesia bukan hanya takluk pada Amerika, tapi juga kepada Australia dan bahkan kepada negara secuil seperti Singapura.Parah Bener!
Disclaimer : Ini adalah blog pribadi, tidak terkait secara struktural dengan organisasi manapun.
Tuesday, May 22, 2007
Monday, May 21, 2007
SBY Ngomongin Maunya Rakyat
Apa yang sebenarnya diinginkan rakyat? Terpenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari, demikian orang nomor saru di negeri ini--SBY--menyimpulkan (http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/05/tgl/21/time/181607/idnews/783000/idkanal/10). Tetapi--lanjutnya--untuk bisa memenuhi hal tersebut sangat berat dan butuh kerja keras bersama.
Tidak salah lagi, terpenuhinya kebutuhan sehari-hari adalah salah satu keinginan paling dasar dari rakyat. Bisa beli beras, minyak goreng (yg lagi mahal bgt), BBM, lauk pauk dan sejenisnya adalah hal-hal yang diharapkan rakyat dapat mereka peroleh secara mudah murah, tanpa harus antri.
Tapi, apa bener cuman itu yang diinginkan rakyat? yang bener ajah boss! Rakyat juga pengen ketika mereka nyekolahin anaknya , anaknya sekolah ditempat yang layak, kagak usah pakai bayar segala, kagak kayak sekarang, masuk TK aja kudu bayar 1 juta perak! yang bener aja nyong! TK yang kerjanya maen prosotan ama nyanyi aja mesti bayar jutaan begitu, gimana masuk kuliahan?
Rakyat juga pengen ketika terpaksa ke rumah sakit mereka mendapat pelayanan yang layak dan murah.
Dan asal tau aja, rakyat juga pengen mendapat kondisi yang aman, kagak kayak sekarang maling, rampok, begal dan sejenisnya rebutan nongol dimana-mana.
Bisa dikatakan SBY dan tandemnya JK, gak berkutik untuk masalah memenuhi hajat rakyat banyak. Angka kemiskinan di saat mereka berkuasa malah bertambah, sebagaimana semakin bertambahnya angka pengangguran.
Memang tidak gampang, cuma mestinya kalau SBY-JK mau mereka bisa menyelesaikan masalah pemenuhan kebutuhan rakyat. Syaratnya, SBY-JK harus tobat dari menggunakan sistem yang berasal dari kapitalisme-liberalisme dan kemudian menjadikan sistem Islam sebagai landasan pengaturan negara. Dengan menghentikan mensupport diri dari sistem batil bin jahiliyah ini, bi idznillah, kehidupan rakyat akan lebih baik.
Menghentikan memakai sistem kapitalisme-liberalisme akan menimbulkan konsekwensi :
a. Semua sumber daya alam yang sifatnya melimpah (i.e sumber-sumber air, gas, Minyak Bumi, Logam-logaman, mineral2 dll) menjadi milik umum, dan tidak diperbolehkan seorangpun mendominasi eksploitasinya. Negara dalam hal ini bisa menjadi pengelola (bukan pemilik), dimana hasil kelolaannya nanti dikembalikan kepada rakyat banyak banyak dalam bentuk penyediaan sarana dan fasilitasi kesehatan, pendidikan dan keamanan secara gratis.
b. Tidak boleh ada lagi praktek-praktek ekonomi non riil dan ribawi seperti bursa saham, bursa komoditas, perdagangan uang, transaksi berbasis bunga, deposito dsb. Semua investasi mesti diarahkan kepada sektor riil, yang berpotensi membuka lapangan kerja
c. Negara bertanggung jawab menjamin mekanisme pemenuhan kebutuhan tiap individu untuk urusan pangan, papan, dan sandang. Mekanisme ini dimulai dengan keharusan tiap laki-laki, baik yang udah merid atau yang masih jomblo yang penting dah dewasa, untuk bekerja. Jika kagak ada kemampuan buat bekerja tanggung jawab ini beralih kepada keluarga terdekat dan ahli warisnya. Jika ternyata keluarganya juga blangsa, tanggung jawabnya beralih kepada negara.
Ini belum apa-apa, masih banyak konsekwensi yang mencerahkan kehidupan ketika kapitalisme-liebralisme ditinggalkan dan kemudian dipakai Islam sebagai landasan pengaturan negara.
Nah, sekarang tinggal kemauan dan keimanan SBY-JK
Tidak salah lagi, terpenuhinya kebutuhan sehari-hari adalah salah satu keinginan paling dasar dari rakyat. Bisa beli beras, minyak goreng (yg lagi mahal bgt), BBM, lauk pauk dan sejenisnya adalah hal-hal yang diharapkan rakyat dapat mereka peroleh secara mudah murah, tanpa harus antri.
Tapi, apa bener cuman itu yang diinginkan rakyat? yang bener ajah boss! Rakyat juga pengen ketika mereka nyekolahin anaknya , anaknya sekolah ditempat yang layak, kagak usah pakai bayar segala, kagak kayak sekarang, masuk TK aja kudu bayar 1 juta perak! yang bener aja nyong! TK yang kerjanya maen prosotan ama nyanyi aja mesti bayar jutaan begitu, gimana masuk kuliahan?
Rakyat juga pengen ketika terpaksa ke rumah sakit mereka mendapat pelayanan yang layak dan murah.
Dan asal tau aja, rakyat juga pengen mendapat kondisi yang aman, kagak kayak sekarang maling, rampok, begal dan sejenisnya rebutan nongol dimana-mana.
Bisa dikatakan SBY dan tandemnya JK, gak berkutik untuk masalah memenuhi hajat rakyat banyak. Angka kemiskinan di saat mereka berkuasa malah bertambah, sebagaimana semakin bertambahnya angka pengangguran.
Memang tidak gampang, cuma mestinya kalau SBY-JK mau mereka bisa menyelesaikan masalah pemenuhan kebutuhan rakyat. Syaratnya, SBY-JK harus tobat dari menggunakan sistem yang berasal dari kapitalisme-liberalisme dan kemudian menjadikan sistem Islam sebagai landasan pengaturan negara. Dengan menghentikan mensupport diri dari sistem batil bin jahiliyah ini, bi idznillah, kehidupan rakyat akan lebih baik.
Menghentikan memakai sistem kapitalisme-liberalisme akan menimbulkan konsekwensi :
a. Semua sumber daya alam yang sifatnya melimpah (i.e sumber-sumber air, gas, Minyak Bumi, Logam-logaman, mineral2 dll) menjadi milik umum, dan tidak diperbolehkan seorangpun mendominasi eksploitasinya. Negara dalam hal ini bisa menjadi pengelola (bukan pemilik), dimana hasil kelolaannya nanti dikembalikan kepada rakyat banyak banyak dalam bentuk penyediaan sarana dan fasilitasi kesehatan, pendidikan dan keamanan secara gratis.
b. Tidak boleh ada lagi praktek-praktek ekonomi non riil dan ribawi seperti bursa saham, bursa komoditas, perdagangan uang, transaksi berbasis bunga, deposito dsb. Semua investasi mesti diarahkan kepada sektor riil, yang berpotensi membuka lapangan kerja
c. Negara bertanggung jawab menjamin mekanisme pemenuhan kebutuhan tiap individu untuk urusan pangan, papan, dan sandang. Mekanisme ini dimulai dengan keharusan tiap laki-laki, baik yang udah merid atau yang masih jomblo yang penting dah dewasa, untuk bekerja. Jika kagak ada kemampuan buat bekerja tanggung jawab ini beralih kepada keluarga terdekat dan ahli warisnya. Jika ternyata keluarganya juga blangsa, tanggung jawabnya beralih kepada negara.
Ini belum apa-apa, masih banyak konsekwensi yang mencerahkan kehidupan ketika kapitalisme-liebralisme ditinggalkan dan kemudian dipakai Islam sebagai landasan pengaturan negara.
Nah, sekarang tinggal kemauan dan keimanan SBY-JK
Monday, May 7, 2007
Christian Science Monitor: Polling Opini: Dunia Islam ingin Syariah.
Kaum muslimin di empat Negara mengatakan bahwa mereka mendukung baik pengaruh islam maupun demokrasi. Mereka juga mengatakan bahwa melemahkan Islam adalah tujuan politik luar negeri Amerika.
KAIRO - Salah satu penemuan yang paling mengkhawatirkan tentang hasil polling terhadap sikap kaum muslimin di empat negara itu adalah mayoritas responden mengatakan bahwa mereka mendukung dua tujuan utama al-Qaeda: Mereka ingin diterapkannya Hukum Islam yang ketat di negara-negara berpenduduk muslim dan untuk “mempersatukan semua Negara Islam menjadi satu Negara, atau Khilafah.”
Keempat negara muslim tampaknya kompak untuk bersama sama memusuhi Amerika. Tapi lebih jauh lagi, sikap kaum muslimin di Mesir dan Pakistan, dua Negara yang disurvei, menunjukkan nuansa yang berbeda yakni bisa menerima demokrasi dan agama.
“Gaung atas pandangan Khilafah dan shariah memiliki nilai dan sejarah budaya yang berakar dalam, dan Osama [bin laden] dapat menjangkau pendukungnya dengan menggunakan pesan-pesan semacam itu…tapi publik tidak berhasrat atas tiap hal hukum Islam, seperti potong tangan,” kata Stephen Weber, dari program mengenai sikap kebijakan internasional (PIPA), yang membantu dilakukannya polling itu, ketika menjawab pertanyaan lewat e-mail. Polling itu dilakukan oleh worldpublicopinion.org
“Pada umumnya, tampaknya tepat untuk mengatakan bahwa Osama memahami pendukungnya dengan baik,” lanjutnya. “seruannya bagi penerapan Syariah dan Khilafah menyentuh nilai-nilai pada komunitas muslim, khususnya di Negara-negara Arab yang kami pelajari.”
Dia mengatakan, sebagai analogi adalah fakta bahwa banyak orang Amerika yang mendukung nilai-nilai Judeo-Kristen dan Sepuluh Perintah Tuhan, “tapi hanya sedikit yang mendukung hukum rajam bagi pezina.”
Polling PIPA, yang dilakukan antara Desember 2006 dan Februari 2007, juga menemukan bahwa mayoritas menolak Al-Qaeda dan taktiknya untuk menyerang penduduk sipil. Lebih dari 75 persen dari mereka yang disurvey di empat Negara – Mesir, Pakistan, Maroko dan Indonesia – mengatakan bahwa serangan terhadap penduduk sipil adalah tidak Islami. Mayoritas di tiga Negara mengatakan bahwa mereka menentang serangan Al-Qaeda di Amerika; di Pakistan, 68 persen menolak menjawab pertanyaan ini, sehingga sulit untuk mengambil kesimpulan sikap mereka.
Polling itu juga menemukan bahwa responden ingin tentara Amerika keluar dari Timur Tengah dan bahkan banyak yang setuju serangan atas tentara Amerika di sana. Mayoritas juga mengatakan bahwa melemahkan Islam adalah tujuan inti kebijakan luar negeri Amerika.
Sedikit orang yang setuju atas visi totaliter
Kebanyakan orang di dalam dan di luar dunia Arab tidak setuju atas visi totaliter yang dikembangkan Al-Qaeda. Dan ketika banyak kaum muslimin yang yakin sharia adalah sesuatu yang diperintahkan dalam agama, mereka mengartikannya dengan berbeda.
Contohnya, dalam polling yang terakhir, yang dikeluarkan pada tanggal 24 April, diketahui bahwa 53 persen orang Indonesia “sangat” atau “agak” setuju bahwa shariah seharusnya diberlakukan pada tiap negara Islam.
Tapi polling yang lebih mendalam atas opini orang Indonesia oleh Asia Foundation tahun 2003 ditemukan bahwa kebanyakan orang Indonesia tidak ingin Hukum Islam menggantikan perundang-undangan yang berlaku, yang memaksa wanita untuk menutup rambutnya, atau membolehkan potong tangan atas pencuri dan pembunuhan atas pelaku zina. Sebaliknya, mereka melihat shariah sebagai suatu nasihat yang diperintahkan oleh lima rukun Islam: iman kepada Allah, sholat, zakat, pergi haji, dan berpuasa di bulan Ramadhan.
Di Pakistan, mayoritas responden mengatakan mereka mendukung shariah dan pendirian Khilafah, yang dilihat oleh para analis berasal dari dua sumber: kebencian atas korupsi dan kurangnya tanggung jawab pemerintah mereka, dan kecendrungan untuk mengkaitkan antara apa yang baik dan buruk.
Sikap yang berbeda atas Al Qaeda
Abdul Kadir Khamosh, ketua Federasi Muslim Kristen yang aktif mempromosikan dialog antar agama di Lahore, Pakistan, mengatakan dukungannya pada shariah tapi memiliki pandangan yang berbeda dengan yang dianut bin Laden.
“Shariah tidak pernah membolehkan seseorang untuk membunuh orang lain. Bahkan syariah tidak membolehkan penebangan sebuah pohon pun,” katanya. Responden di Pakistan menunjukkan kecendrungan atas shariah yang lebih tinggi daripada demokrasi. Dua puluh persen diantaranya mengatakan bahwa demokrasi adalah sistim yang sangat baik, sementara 79 persen mengatakan bahwa mereka mendukung syariah, tapi tidak berarti mereka menentang demokrasi, kata para cendekiawan muslim.
“Kami perlu demokrasi, kami suka demokrasi. Demokrasi adalah jalan yang baik – kami tidak percaya sistim kerajaan. Tapi demokrasi adalah hanya sebagian kecil dari syariah, “kata Khamosh. Dia menambahkan bahwa bahwa orang di Pakistan ingin memadukan antara nilai-nilai mereka dengan sistim demokrasi dan bukan hanya sistim demokrasi saja.
Prinsip-prinsip inti yang dianut bersama
Tampaknya hal yang serupa terjadi di Maroko dan Mesir, dimana politisi Islam terkemuka mengatakan bahwa mereka tidak bisa menerima sistim Islam bergaya diktator. Di kedua Negara itu, kelompok-kelompok oposisi Islam mengatakan bahwa mereka mengartikan Islam sebagai sistim yang menuntut penduduk untuk memberikan input demokrasi pada pemerintahanya.
Kami mengambil prinsip-prinsip inti demokrasi dan kami menyimpulkan bahwa…mereka memiliki nilai-nilai yang sama, kata Mustapha Khalifi, anggota Partai Keadilan dan Pembangunan di Maroko, kelompok Islam yang kuat di parlemen.
“Kami tidak menemukan masalah besar antara nilai-nilai inti demokrasi dan nilai-nilai inti Islam,” tambah Khalifi, yang baru saja kembali setelah bekerja setahun di Capitol Hill di Washington.
Sultan-i-Roma, seorang professor Ilmu-ilmu Sejarah dan Islam di Swat, di Propinsi Pakistan Barat Daya, mengatakan bahwa kaum muslimin di Pakistan tidak menentang nilai-nilai Barat, karena mereka menganutnya – tapi yang mereka tentang adalah kebijakan-kebijakan Barat, khususnya apa yang dilakukan di Irak dan Afghanistan.
“Jika saya ingin hukum Islam, tidak berarti saya tidak percaya lagi pada dunia,” komentarnya. “Tidak berarti saya tidak ingin memiliki hubungan dengan Amerika atau Barat. Mereka ingin tetap berhubungan, tapi mereka punya keberatan atas arah kebijakan-kebijakan itu.”
David Montero di Islamabad, Pakistan, dan Jill Carroll di Cairo menyumbangkan laporan ini.
[Kamis, 26 April 2007 ; Christian Science Monitor; Oleh Dan Murphy | Staff writer]
KAIRO - Salah satu penemuan yang paling mengkhawatirkan tentang hasil polling terhadap sikap kaum muslimin di empat negara itu adalah mayoritas responden mengatakan bahwa mereka mendukung dua tujuan utama al-Qaeda: Mereka ingin diterapkannya Hukum Islam yang ketat di negara-negara berpenduduk muslim dan untuk “mempersatukan semua Negara Islam menjadi satu Negara, atau Khilafah.”
Keempat negara muslim tampaknya kompak untuk bersama sama memusuhi Amerika. Tapi lebih jauh lagi, sikap kaum muslimin di Mesir dan Pakistan, dua Negara yang disurvei, menunjukkan nuansa yang berbeda yakni bisa menerima demokrasi dan agama.
“Gaung atas pandangan Khilafah dan shariah memiliki nilai dan sejarah budaya yang berakar dalam, dan Osama [bin laden] dapat menjangkau pendukungnya dengan menggunakan pesan-pesan semacam itu…tapi publik tidak berhasrat atas tiap hal hukum Islam, seperti potong tangan,” kata Stephen Weber, dari program mengenai sikap kebijakan internasional (PIPA), yang membantu dilakukannya polling itu, ketika menjawab pertanyaan lewat e-mail. Polling itu dilakukan oleh worldpublicopinion.org
“Pada umumnya, tampaknya tepat untuk mengatakan bahwa Osama memahami pendukungnya dengan baik,” lanjutnya. “seruannya bagi penerapan Syariah dan Khilafah menyentuh nilai-nilai pada komunitas muslim, khususnya di Negara-negara Arab yang kami pelajari.”
Dia mengatakan, sebagai analogi adalah fakta bahwa banyak orang Amerika yang mendukung nilai-nilai Judeo-Kristen dan Sepuluh Perintah Tuhan, “tapi hanya sedikit yang mendukung hukum rajam bagi pezina.”
Polling PIPA, yang dilakukan antara Desember 2006 dan Februari 2007, juga menemukan bahwa mayoritas menolak Al-Qaeda dan taktiknya untuk menyerang penduduk sipil. Lebih dari 75 persen dari mereka yang disurvey di empat Negara – Mesir, Pakistan, Maroko dan Indonesia – mengatakan bahwa serangan terhadap penduduk sipil adalah tidak Islami. Mayoritas di tiga Negara mengatakan bahwa mereka menentang serangan Al-Qaeda di Amerika; di Pakistan, 68 persen menolak menjawab pertanyaan ini, sehingga sulit untuk mengambil kesimpulan sikap mereka.
Polling itu juga menemukan bahwa responden ingin tentara Amerika keluar dari Timur Tengah dan bahkan banyak yang setuju serangan atas tentara Amerika di sana. Mayoritas juga mengatakan bahwa melemahkan Islam adalah tujuan inti kebijakan luar negeri Amerika.
Sedikit orang yang setuju atas visi totaliter
Kebanyakan orang di dalam dan di luar dunia Arab tidak setuju atas visi totaliter yang dikembangkan Al-Qaeda. Dan ketika banyak kaum muslimin yang yakin sharia adalah sesuatu yang diperintahkan dalam agama, mereka mengartikannya dengan berbeda.
Contohnya, dalam polling yang terakhir, yang dikeluarkan pada tanggal 24 April, diketahui bahwa 53 persen orang Indonesia “sangat” atau “agak” setuju bahwa shariah seharusnya diberlakukan pada tiap negara Islam.
Tapi polling yang lebih mendalam atas opini orang Indonesia oleh Asia Foundation tahun 2003 ditemukan bahwa kebanyakan orang Indonesia tidak ingin Hukum Islam menggantikan perundang-undangan yang berlaku, yang memaksa wanita untuk menutup rambutnya, atau membolehkan potong tangan atas pencuri dan pembunuhan atas pelaku zina. Sebaliknya, mereka melihat shariah sebagai suatu nasihat yang diperintahkan oleh lima rukun Islam: iman kepada Allah, sholat, zakat, pergi haji, dan berpuasa di bulan Ramadhan.
Di Pakistan, mayoritas responden mengatakan mereka mendukung shariah dan pendirian Khilafah, yang dilihat oleh para analis berasal dari dua sumber: kebencian atas korupsi dan kurangnya tanggung jawab pemerintah mereka, dan kecendrungan untuk mengkaitkan antara apa yang baik dan buruk.
Sikap yang berbeda atas Al Qaeda
Abdul Kadir Khamosh, ketua Federasi Muslim Kristen yang aktif mempromosikan dialog antar agama di Lahore, Pakistan, mengatakan dukungannya pada shariah tapi memiliki pandangan yang berbeda dengan yang dianut bin Laden.
“Shariah tidak pernah membolehkan seseorang untuk membunuh orang lain. Bahkan syariah tidak membolehkan penebangan sebuah pohon pun,” katanya. Responden di Pakistan menunjukkan kecendrungan atas shariah yang lebih tinggi daripada demokrasi. Dua puluh persen diantaranya mengatakan bahwa demokrasi adalah sistim yang sangat baik, sementara 79 persen mengatakan bahwa mereka mendukung syariah, tapi tidak berarti mereka menentang demokrasi, kata para cendekiawan muslim.
“Kami perlu demokrasi, kami suka demokrasi. Demokrasi adalah jalan yang baik – kami tidak percaya sistim kerajaan. Tapi demokrasi adalah hanya sebagian kecil dari syariah, “kata Khamosh. Dia menambahkan bahwa bahwa orang di Pakistan ingin memadukan antara nilai-nilai mereka dengan sistim demokrasi dan bukan hanya sistim demokrasi saja.
Prinsip-prinsip inti yang dianut bersama
Tampaknya hal yang serupa terjadi di Maroko dan Mesir, dimana politisi Islam terkemuka mengatakan bahwa mereka tidak bisa menerima sistim Islam bergaya diktator. Di kedua Negara itu, kelompok-kelompok oposisi Islam mengatakan bahwa mereka mengartikan Islam sebagai sistim yang menuntut penduduk untuk memberikan input demokrasi pada pemerintahanya.
Kami mengambil prinsip-prinsip inti demokrasi dan kami menyimpulkan bahwa…mereka memiliki nilai-nilai yang sama, kata Mustapha Khalifi, anggota Partai Keadilan dan Pembangunan di Maroko, kelompok Islam yang kuat di parlemen.
“Kami tidak menemukan masalah besar antara nilai-nilai inti demokrasi dan nilai-nilai inti Islam,” tambah Khalifi, yang baru saja kembali setelah bekerja setahun di Capitol Hill di Washington.
Sultan-i-Roma, seorang professor Ilmu-ilmu Sejarah dan Islam di Swat, di Propinsi Pakistan Barat Daya, mengatakan bahwa kaum muslimin di Pakistan tidak menentang nilai-nilai Barat, karena mereka menganutnya – tapi yang mereka tentang adalah kebijakan-kebijakan Barat, khususnya apa yang dilakukan di Irak dan Afghanistan.
“Jika saya ingin hukum Islam, tidak berarti saya tidak percaya lagi pada dunia,” komentarnya. “Tidak berarti saya tidak ingin memiliki hubungan dengan Amerika atau Barat. Mereka ingin tetap berhubungan, tapi mereka punya keberatan atas arah kebijakan-kebijakan itu.”
David Montero di Islamabad, Pakistan, dan Jill Carroll di Cairo menyumbangkan laporan ini.
[Kamis, 26 April 2007 ; Christian Science Monitor; Oleh Dan Murphy | Staff writer]
Monday, April 30, 2007
Senengnya Kaum Ajeb-Ajeb
Ketika kita ngomongin dunia malam tentu semua dah pada paham bahwa kita bukan lagi ngomongin pak hansip yg lagi ngeronda pas orang sedang lelapnya tertidur, tentu udah pada paham yang dimaksud disini adalah kehidupan malam di tempat-tempat hiburan malam seperti diskotik, klub malam, pub, karaoke dan tempat-tempat hiburan lainnya.
Ditempat ini berkumpulah berbagai aktivitas maksiat yang tidak halal seperti ikhtilat (campur baur laki prempuan yg bukan mahrom), minuman keras, zina, narkoba, umbar aurat dsb. Tentu saja tempat-tempat yang kayak gini gak bakal dibolehkan ada dalam padangan Islam. Maka sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:
"barang siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan, jika tidak kuasa maka rubahlah dengan lisan dan jika tidak mampu rubahlah dengan hati itulah selemah-lemahnya iman"
adalah ke-kuduan dan ke-fardhuan tiap orang beriman mesti untuk menolak dan mengusahakan tempat-tempat maksiat tsb tutup selamanya
Salah satu kota yang paling kaya tempat begituan adalah DKI Jakarta. Sampai pemerintahan yang sekarang, Sutiyoso dan Fauzi Bowo, tempat ini masih aman-aman aja sampai sekarang. Seruan berbagai kelompok ummat islam agar tempat-tenpat tidak halal tsb ditutup tidak pernah dihiraukan penguasa DKI. Bahkan temen-temen dari FPI yang paling sering ngegebuk tempat maksiat ini justru disalahkan. Padahal jika penguasa DKI bertaqwa pada Allah, maka tempat tsb tentu umurnya gak panjang, dan temen-temen FPI gak perlu turun tangan. Maka tetaplah tenanglah kaum hedonis berajeb-ajeb ampe dini hari, karena tempat mereka bermaksiat dilindungi ama penguasa.
Sampai suatu saat, ketika partai Islam mengajukan calon gubernur buat DKI. Pelaku ajeb-ajeb sempat khawatir, jangan-jangan gairah hura-hura mereka tidak akan berlangsung lama, mereka khawatir keinginan kelompok Islam bakal diakomodir oleh calon gubernur mendatang yang didukung oleh partai Islam yang menang Pemilu di DKI.
Komendan Adang, dengan dukungan PKS adalah kengerian bagi kaum hura-hura malam. kalau Fauzi Bowo si cincai lah, toh selama jadi Wagub dia gak rese ama dunia malam. Namun sepertinya kaum ajeb-ajeb dapat bernapa lega, karena Adang dan PKS-nya ga seseram yang mereka bayangkan. Ketika Wimar Witoelar dalam suatu acara di TV swasta bertanya pada Adang :
Karena anda dicalonkan oleh sebuah partai yang bermoral tinggi atau diyakini sebagai partai yang mempunyai nilai moral, saya ingin tanya apa anda akan mendukung penutupan tempat-tempat hiburan yang tidak halal walaupun itu mendatangkan penghasilan bagi daerah?
Adang ngejawab :
Pasti saya tidak tutup! (http://www.perspektif.net/indonesian/article.php?article_id=631)
Yess....betapa bahagianya kaum ajeb-ajeb...betapa nestapa pecinta Islam..
Ini adalah pukulan kedua setelah bossnya Playboy Indonesia dibebaskan dari hukuman oleh PN Jaksel.
Selamat datang di Republik Porno..selamat datang di Jakarat Metropolimaksiat....
Ditempat ini berkumpulah berbagai aktivitas maksiat yang tidak halal seperti ikhtilat (campur baur laki prempuan yg bukan mahrom), minuman keras, zina, narkoba, umbar aurat dsb. Tentu saja tempat-tempat yang kayak gini gak bakal dibolehkan ada dalam padangan Islam. Maka sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:
"barang siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan, jika tidak kuasa maka rubahlah dengan lisan dan jika tidak mampu rubahlah dengan hati itulah selemah-lemahnya iman"
adalah ke-kuduan dan ke-fardhuan tiap orang beriman mesti untuk menolak dan mengusahakan tempat-tempat maksiat tsb tutup selamanya
Salah satu kota yang paling kaya tempat begituan adalah DKI Jakarta. Sampai pemerintahan yang sekarang, Sutiyoso dan Fauzi Bowo, tempat ini masih aman-aman aja sampai sekarang. Seruan berbagai kelompok ummat islam agar tempat-tenpat tidak halal tsb ditutup tidak pernah dihiraukan penguasa DKI. Bahkan temen-temen dari FPI yang paling sering ngegebuk tempat maksiat ini justru disalahkan. Padahal jika penguasa DKI bertaqwa pada Allah, maka tempat tsb tentu umurnya gak panjang, dan temen-temen FPI gak perlu turun tangan. Maka tetaplah tenanglah kaum hedonis berajeb-ajeb ampe dini hari, karena tempat mereka bermaksiat dilindungi ama penguasa.
Sampai suatu saat, ketika partai Islam mengajukan calon gubernur buat DKI. Pelaku ajeb-ajeb sempat khawatir, jangan-jangan gairah hura-hura mereka tidak akan berlangsung lama, mereka khawatir keinginan kelompok Islam bakal diakomodir oleh calon gubernur mendatang yang didukung oleh partai Islam yang menang Pemilu di DKI.
Komendan Adang, dengan dukungan PKS adalah kengerian bagi kaum hura-hura malam. kalau Fauzi Bowo si cincai lah, toh selama jadi Wagub dia gak rese ama dunia malam. Namun sepertinya kaum ajeb-ajeb dapat bernapa lega, karena Adang dan PKS-nya ga seseram yang mereka bayangkan. Ketika Wimar Witoelar dalam suatu acara di TV swasta bertanya pada Adang :
Karena anda dicalonkan oleh sebuah partai yang bermoral tinggi atau diyakini sebagai partai yang mempunyai nilai moral, saya ingin tanya apa anda akan mendukung penutupan tempat-tempat hiburan yang tidak halal walaupun itu mendatangkan penghasilan bagi daerah?
Adang ngejawab :
Pasti saya tidak tutup! (http://www.perspektif.net/indonesian/article.php?article_id=631)
Yess....betapa bahagianya kaum ajeb-ajeb...betapa nestapa pecinta Islam..
Ini adalah pukulan kedua setelah bossnya Playboy Indonesia dibebaskan dari hukuman oleh PN Jaksel.
Selamat datang di Republik Porno..selamat datang di Jakarat Metropolimaksiat....
Saturday, April 21, 2007
POLITIK PEMIKIRAN
Ditulis oleh Hamid Fahmy Zarkasyi
Ketika segelintir ulama dan cendekiawan Muslim menolak RUU APP, mereka tidak hanya membenarkan gambar-gambar dan tarian atau goyang tabu (baca porno), atau bicara halal haram, moralitas atau akhlak bangsa. Mereka tengah memasarkan paham relativisme, hedonisme dan kebebasan (liberalisme). Ketika Aminah Wadud menjadi imam Jumat di sebuah gereja di Amerika, ia tidak sedang mengaplikasikan ijtihad Fiqhiyyahnya. Ia tengah memasarkan paham gender dan feminisme. Pernyataan seorang anak muda Muslim “semua agama sama benarnya”, “tidak ada syariat Islam, tidak ada hukum Tuhan”, bukan pernyataan tentang teologi atau syariat Islam, tapi pelaksanaan proyek globalisasi biaya tinggi. Buku berjudul “Fiqih Lintas Agama” yang terbit dua tahun silam, bukan buku bacaan tentang Fiqih, tapi buku “pesanan” untuk proyek pluralisme agama.
Betulkah mereka bermaksud begitu? Tentu tidak menurut mereka. Tapi betul menurut teori pemikiran Barat postmodern. Dalam bahasa Gadamer itu disebut effective historical consciousness (kesadaran kesejarahan yang efektif). Mereka memahami realitas segala sesuatu sebatas ruang dan waktu kekinian saja. Mungkin, secara pejoratif bisa disebut ghirah tarikhiyyah, yang tidak sejalan bahkan menggeser dan menggusur ghirah diniyyah..
Menurut bacaan Habermas memang betul begitu. Sebab segala sesuatu harus dipahami berdasarkan motif kepentingan sosial (social interest) yang melibatkan kepentingan kekuasaan (power interest). Pemahaman seperti ini sudah sangat jamak dikalangan aktifis liberal dan postmodernis. Mereka sendiri memahami Islam dengan cara yang sama. Islam bagi mereka adalah produk dari sebuah kepentingan dan kekuasaan. Dan karena itu mereka tidak merasa bersalah jika memahami Islam juga untuk kepentingan tertentu. Itulah yang, kalau boleh saya katakan, politik pemikiran.
Benarkah pemikiran liberal itu sarat kepentingan? Benar ! sebab liberal adalah posmodernis dan posmodernis, tulis Akbar S Ahmed, adalah pendukung pluralisme, anti fundamentalisme, banyak protes terhadap tradisi, dan cara berfikirnya eklektik (Akbar S. Ahmed, Postmodernism). Pemikiran bukan untuk pengetahuan, tapi untuk kepentingan (kekuasaan atau politik). Buktinya dari pemikiran mereka tiba-tiba menggalang komunitas, gerakan sosial dan bahkan menjelma menjadi pressure group. Demi “memasarkan” paham pluralisme agama, misalnya, pertama-tama mereka menolak adanya kebenaran mutlak, yang ada hanya kebenaran relatif. Kepentingannya adalah untuk menghilangkan fundamentalisme dan sikap merasa benar. Inilah politik pemikiran.
Politik Pemikiran
Karena itu adalah politik pemikiran, tak heran jika aktifisnya pun menjadi militan dan terkadang emosional. Substansi pemikirannya sarat dengan muatan politik, buktinya ia bersifat responsif dan akomodatif terhadap suatu kepentingan ideologi tertentu (baca: Barat). Niatnya, nampak tidak tulus karena sikap apriori dan kritis mereka terhadap tradisi pemikiran Islam lebih menonjol ketimbang terhadap Barat. Konsep-konsepnya sulit untuk dikategorikan ke dalam gerakan pembaharuan pemikiran Islam karena sifatnya lebih cenderung destruktif daripada konstruktif.
Ketika suatu pemikiran bernuansa politik, aktifitasnya hampir tidak beda dari gerakan politik. Media grafis, media elektronik, film, musik, aksi sosial dan berbagai media lainnya menjadi kendaraan. Pemikiran bukan di dakwahkan, tapi “dijual” ketengah masyarakat untuk suatu kepentingan. Ketika pemikiran bernuansa politik, pernyataan tentang suatu gagasan selalu bermakna ganda. Antara ucapan, ungkapan atau pernyataan bisa berbeda dari makna yang dimaksud. Bahkan terkadang, mengikuti gaya Derrida, makna yang sudah mapan di dekonstruksi sehingga menjadi bermakna baru.
Untuk mendekonstruksi institusi agama, diperkenalkanlah teori dualisme dan relativisme: agama dan pemikian keagamaan adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama absolut dan yang kedua relatif. Pemikiran ini secara politis ditujukan untuk memberantas sikap-sikap keagamaan ekslusif, fundamentalis dan absolutis. Jika dualisme pemikiran dianut, maka semua pemikiran keagamaan akan menjadi relatif, yang mutlak hanyalah agama dan yang tahu agama hanya Tuhan. Siapapun boleh berfikir tentang apapun dalam soal agama. Tidak ada kebenaran mutlak, tidak ada yang berhak menyalahkan pemikiran orang lain, tidak ada yang bisa mencegah kemunkaran. Tidak ada lembaga atau kelompok yang boleh mengeluarkan fatwa-fatwa keagamaan. Baik buruk, salah benar tergantung kepada individu. Semua bebas. Inilah politik pemikiran. Jika target ini tercapai, maka paham teologi global (global theology) atau teologi dunia (world theology) akan menemukan jalannya menembus semua agama. Inilah kepentingan politik pemikiran itu.
Kalaupun tidak dengan teori dekonstruksinya Derrida, mereka menggunakan metode aliran sophist (indiyah, la adriyah dan inadiyah). Ketika argumentasi mereka tentang kebebasan menafsirkan agama dengan sebebas-bebasnya mulai nampak lemah, misalnya mereka berkelit dan berlindung dibawah prinsip-prinsip HAM. Ketika ide feminisme tidak bisa mendekonstruksi Fiqih, mereka menggunakan dalih perlunya persamaan dan pemberantasan penindasan dan pelecehan terhadap wanita. Targetnya sama, agar di masyarakat tidak ada lagi yang mempunyai otoritas. Tidak ada yang bisa berkuasa karena agama dan agar agama tidak mengisi ruangan publik.
Jika dibaca dengan cermat buku-buku seperti Clash of Civilizations, karya S.Huntington, Who Are We, karya Bernad Lewis, When Religions Become Evil, karya Richard Kimbal, The End of History, karya Fukuyama, Islam Unveiled: Disturbing Question About the World’s Fastest-Growing Faith, karya Robert Spencer dan lain-lain mengandung fakta-fakta pemikiran yang berimplikasi politik. Yang kurang kritis bisa saja menilai buku-buku itu dengan sikap positif. Mungkin alasannya karena asumsinya baru, analisasnya tajam, argumentasinya valid, pertanyaan-pertanyaannya menantang untuk dijawab dan lain sebagainya. Tapi jika ia mencermati implikasi politik dalam semua asumsi, analisa dan argumentasinya maka ia akan menilai dengan sikap sebaliknya.
Karena tidak semua orang dapat menemukan hubungan antara pemikiran dan target politis dibaliknya, maka tidak heran jika diantara umat Islam ada yang bersikap apatis terhadap wacana-wacana pemikiran yang dikenal “liberal” itu. Padahal pemikiran yang politis itulah yang menjadi bahan kekibijakan strategis.
Dari Pemikiran ke Strategi
Untuk mengetahui bagaimana sebuah pemikiran berubah menjadi kebijakan strategis, kita rujuk sebuah buku yang berjudul Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies, (2003), ditulis oleh Cheryl Bernard. Buku ini membahas tentang politik perang pemikiran atau strategi dan taktik pemikiran yang perlu dilakukan Barat untuk menghadapi umat Islam pasca 11 September. Targetnya untuk melawan sesuatu yang tidak jelas “terorisme dan fundamentalisme” dalam Islam. Bahkan setelah menulis buku ini ia menulis buku lain berjudul “U.S. Strategy in the Muslim World After 9/11 (2004), The Muslim World After 9/11 (2004), dan Three Years After: Next Steps in the War on Terror (2005). Sudah tentu tulisan-tulisannya itu merujuk kepada pemikiran, pandangan dan gambaran tentang ummat Islam yang ditulis oleh cendekiawan sebelumnya. Jargon science for science, yang konon dipegang Barat secara konsisten ternyata tidak. Karya-karya tentang Islam yang diwarnai oleh bias kultural dan sentimen keagamaan, misalnya digunakan untuk kepentingan eksploitasi dan bahkan kilonialisasi. Pemikiran sekularisme, demokrasi, liberalisme yang di suntikkan kedalam pemikiran ummat Islam bukanlah murni pemikiran, ia telah berubah bentuk menjadi politik pemikiran. Pemikiran ini tidak menjadi ilmu tapi menjelma menjadi kebijakan politik.
Cheryl Bernard adalah sosiologis yang pernah menulis novel-novel feminis yang memojokkan ulama dan menyatakan wanita dalam Islam itu tertindas. Jilbab menurutnya diambil dari pemahaman yang salah terhadap al-Qur’an, dan merupakan simbol pemaksanaan dan intimidasi. Suaminya adalah Zalmay Khalilzad, blasteran Afghan-Amerika yang menjadi asisten khusus Presiden George W Bush dan Ketua Dewan Keamanan Nasional (National Security Council (NSC) khusus untuk teluk Persia dan Asia Barat-Daya. Selain itu ia pada tahun 1980 bekerja dibawah Paul Wolfowitz pada Policy Planning Council. Pada saat terjadi perang terhadap Iraq tahun 1991, Zalmay menjadi sekretaris menteri pertahanan.
Cheryl Bernard menulis ini dibawah proyek penelitian sebuah lembaga swadaya masyarakat di Amerika lembaga itu bernama Rand Corporation. Sebuah lembaga riset yang mengklaim sebagai lembaga independen yang membuat “analisa obyektif dan solusi efektif terhadap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat ataupun individu diseluruh dunia”. Lembaga ini dibiayai oleh Smith Richardson Foundation. Di lembaga ini Cheril menulis untuk Divisi Riset Keamanan Nasional (National Security Research Division) dimana suaminya bekerja. Tujuan dari buku ini adalah untuk membuat suatu laporan dan usulan dalam rangka membantu kebijakan pemerintah Amerika, khususnya dalam soal pemberantasan ekstrimisme, dan pengembangan bidang sosial, ekonomi, politik melalui proses demokratisasi. Yang jelas divisi ini bertugas memberi saran-saran kepada pemerintah Amerika bagaimana menghadapi “fundamentalisme” dalam Islam dan menyebarkan pemikiran liberal ketengah-tengah umat Islam.
Sebuah saran tentunya berdasarkan pertimbangan dan dasar pemikiran tertentu. Pemikiran mana yang menjadi asasnya, ia pilih sejalan dengan kepentingannya. Berdasarkan pemikiran itu ia memberi masukan kepada pemerintah Amerika, pertama tentang nilai-nilai mana dalam Islam yang bisa diseret kedalam nilai-nilai Amerika. Kedua tentang peta masalah-masalah umat Islam dalam konteks nilai-nilai Amerika. Dan akhirnya muncullah saran-saran agar isu-isu seperti demokrasi dan HAM, poligami, hukuman bagi kriminalitas, keadilan, masalah minoritas, pakaian wanita, hak-hak suami-istri dsb. masuk kedalam pemikiran umat Islam. Saran-saran itu, seperti yang akan lihat dibawah ini, dilaksanakan dengan baik di Indonesia.
Strategi Politik Pemikiran
Politik pemikiran Cheryl nampak jelas ketika ia mengemukakan suatu strategi yang bertujuan untuk merobah dunia Islam agar sesuai dengan “tatanan” dunia internasional kontemporer, Amerika Serikat dan Barat. Tujuannya adalah:
To encourage positive change in the Islamic world toward greater democracy, modernity, and compatibility with the contemporary international world order, the United States and the West need to consider very carefully which elements, trends, and forces within Islam they intend to strengthen (hal x)
Karena tujuannya untuk mem-Barat-kan umat Islam, maka ia hanya memilih elemen-elemen dan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan Barat saja untuk dikembangkan. Ini tentu untuk memuluskan jalannya modernisasi, westernisasi dan Amerikanisasi. Bahkan lebih praktis lagi Bernard menyarankan agar Barat memberikan “bantuan” bagi pengembangan nilai-nilai Barat tersebut kedalam pemikiran ummat Islam. Bantuan itu kini telah mengucur ke berbagai LSM-LSM di Indonesia.
Tidak hanya menyeret nilai-nilai Islam kedalam nilai-nilai Barat, Cheryl Bernard juga membuat kategori kelompok-kelompok umat Islam dengan bahasa kultural Barat. Kelompok Islam dalam laporan itu dibagi menjadi Muslim sekularis, Tradisionalis, fundamentalis dan modernis (dalam kelompok terakhir ini termasuk Muslim liberal). Muslim modernis misalnya, dinisbahkan kepada Muslim yang bekerja untuk Barat dan yang mendukung masyarakat demokratis modern. Sementara itu Muslim fundamentalis radikal (the radical fundamentalists) adalah mereka yang anti demokrasi Barat, nilai-nilai Barat secara umum, dan Amerika Serikat khususnya; pokoknya tujuan dan visi kelompok ini tidak sesuai dengan Barat. Jadi standar klasifikasi ini adalah Barat, dan bukan berdasarkan realitas umat Islam. Memang, inilah strategi pemikiran.
Dari pemikiran dan gambaran tentang umat Islam yang salah itu Cheryl mengusulkan saran-saran strategi pemikiran kepada pemerintah AS. Saran-saran strategis itu dibagi menjadi dua A. Dasar-dasar strategis dan B. akifitas khusus untuk mendukung strategis tsb
Saran-saran strategis yang diberikan Cheryl kepada pemerintah AS adalah sbb: 1) Ciptakan tokoh atau pemimpin panutan yang membawa nilai-nilai modernitas 2) Dukung terciptanya masyarakat sipil (civil society) didunia Islam.3) Kembangkan gagasan Islam warna-warni, seperti Islam Jerman, Islam Amerika, Islam Inggeris dst. 4) Serang terus menerus kalompok fundamentalis dengan cara pembusukan person-personnya melalui media masa. 5) Promosikan nilai-nilai demokrasi Barat modern 6) Tantang kelompok tradisionalis dan fundamentalis dalam soal kemakmuran, keadilan sosial, kesehatan, ketertiban masyarakat dsb. 7) Fokuskan ini semua kepada dunia pendidikan dan generasi muda Muslim.
Untuk memperkuat dan mempercepat pembangunan masyarakat sipil Islam yang demokratis dan modern Cheryl Bernard mengusulkan strategi sbb: 1) Dukunglah kelompok modernis, perluas visi mereka tentang Islam sehingga mengungguli kelompok tradisionalis. Kemudian angkat mereka secara publik sehingga menjadi figure Muslim kontemporer. 2) Dukunglah kelompok sekularis kasus per kasus. 3) Kembangkan lembaga-lembaga dan program-program sekuler dibidang sosial dan kultural 4) Dukung kelompok tradisionalis secukupnya sekedar dapat berlawanan dengan fundamentalis dan dapat menghindari persatuan kedua kelompok ini. 5) Musuhi kelompok fundamentalis secara energik dengan menyerang kelemahan mereka dalam pemahaman dan ideologi keislaman mereka, seperti membuktikan korupsi, kebrutalan, kebodohan, bias mereka dan kesalahan mereka dalam mengamalkan Islam serta ketidak mampuan mereka dalam memimpin dan memerintah.
Untuk mendukung mendukung langkah-langkah strategis tersebut Cheryl juga memberikan saran-saran taktis sbb:
1) Pertama-tama dukung kelompok cendekiawan modernis (liberal). Dorong mereka menulis untuk publik dan anak muda. Terbitkan dan sebarkan kerja-kerja mereka dengan bantuan biaya. Masukkan ide-ide mereka ini kedalam kurikulum pendidikan Islam. Usahakan agar pandangan mereka tentang masalah-masalah mendasar dalam penafsiran agama dapat dibaca oleh masyarakat dan agar berkompetisi dengan kelompok fundamentalis dan tradisionalis.
2) Dukung kelompok tradisionalis dalam menghadapi fundamentalis. Publikasikan kritik-kritik kelompok tradisionalis terhadap tindak kekerasan dan ektrimisme kelompok fundamentalis. Pupuk terus perselisihan antara tradisionalis dan fundamentalis, dan jangan sampai mereka bersatu. Upayakan agar pemikiran tradisionalis mendekati modernis. Kalau perlu didiklah kelompok tradisionalis agar dapat melawan fundamentalis. Fundamentalis biasanya lebih superior dalam retorika, tapi tradisionalis masih agak tertinggal. Tingkatkan jumlah kelompok modernis (liberal) dalam institusi tradisionalis.
3. Hadapi dan lawan fundamentalis. Tantanglah penafsiran mereka tentang Islam dan tunjukkan ketidakakuratannya. Bongkar jaringan mereka dengan kelompok-kelompok illegal. Publikasikan segala konsekuensi dari tindak kekerasan mereka. Tunjukkan juga ketidak mampuan mereka untuk memimpin, untuk mencapai perkembangan positif bagi Negara dan masyarakatnya. Kemudian sebarkan hal ini kepada generasi muda, kepada masyarakat tradisionalis yang taat, minoritas Muslim di Barat dan kepada para wanita. Hindarkan rasa respek atau pemujaan terhadap kekerasan yang dilakukan kelompok fundamentalis, ekstrimis dan teroris. Juluki mereka sebagai pahlawan jahat, penakut dan tidak waras. Doronglah para wartawan untuk menginvestigasi korupsi, kemunafikan dan tindak amoral dalam kelompok fundamentalis dan teroris. Pecah belahlah kelompok fundamentalis.
4. Dukunglah kelompok sekularis dengan secara hati-hati. Dorong kelompok ini agar mengakui fundamentalisme sebagai musuh bersama. Hindarkan agar kelompok sekularis ini tidak beraliansi dengan kekuatan anti AS yang didorong oleh nasionalisme atau ideologi kiri. Dukunglah ide bahwa dalam Islam agama dan Negara dapat dipisahkan dan ini tidak membahayakan keimanan tapi malah memperkuat keimanan. Posisikan sekularisme dan modernisme sebagai pilihan bagi ummat Islam. Upayakan agar dikalangan ummat Islam tumbuh kesadaran dan ketertarikan kepada sejarah dan kultur pra-Islam dan non-Islam. Bantulah kelompok ini dalam mengembangkan organisasi sipil yang independent agar mereka dapat mengembangkan diri melalui proses politik. (hal.48)
Lebih lanjut Cheryl Bernard memberi masukan tentang langkah praktis yang perlu dilakukan untuk mendukung strategi dan taktik diatas. Kegiatan-kegiatan yang ia usulkan adalah sbb: 1) Rebut atau rusaklah "monopoli" kelompok fundamentalis dan tradisionalis dalam menjelaskan dan menafsirkan Islam. 2) Cari kelompok modernis / liberal yang dapat membuat website yang menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku harian dan kemudian menawarkan pendapat Muslim modernis tentang hukum-hukumnya. 3) Doronglah cendekiawan Modernis / liberal untuk menulis buku teks dan mengembangkan kurikulum dan berilah bantuan finansial. 4) Gunakan media regional yang populer, seperti radio, untuk memperkenalkan pemikiran-pemikiran Muslim modernis / liberal agar membuat dunia internasional melek tentang apa arti Islam dan dapat berarti apa Islam itu.
Meski disini tidak dapat dihadirkan bukti bahwa Amerika menerima dan melaksankan saran-saran Cheryl Bernard, tapi kita bisa saksikan saran-saran Cheryl Bernard di implementasikan di Indonesia secara perlahan-lahan tapi pasti. Fenomenanya jelas. Muslim pendukung Barat dipromosikan media masa menjadi tokoh baru. Kini istilah civil socity sudah sering keluar mulut cendekiawan Muslim dan akrab ditelinga mahasiswa. Konsep civil socity pun dianggap sepadan dengan konsep masyarakat madani. Modernis dan Liberal Muslim pendukung Barat adalah pembela aliran “sesat”, atau aliran-aliran sempalan. Muslim yang tidak sejalahn dengan liberal, sekuler, demokrasi Barat, akan segera dicap teroris, fundamentalis dan anti Barat. LSM-LSM kini tidak lagi berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, tapi lebih kepada pembaratan masyarakat. Proposal proyek untuk “mengekspor” kemiskinan masyarakat ke Negara-negara Barat tidak laku lagi. Sementara proposal untuk menjual paham masyarakat sipil, demokrasi, gender, liberalisme, pluralisme agama, multikulturalisme dan semacamnya tidak lagi mencari bantuan Barat, tapi dicari-cari Barat untuk dibantu. Bahkan yang paling keras mengkritik ajaran Islam dan tradisi pemikiran Islam serta membawa gagasan-gagasan “aneh” kini mudah mendapat dana dan biasiswa dari Barat. Inilah barangkali yang disindir al-Baqarah (Q.S. 2:41, 79, 173), Ali Imran (Q.S. 3:77,187, 199), al-Mai’dah (Q.S. 9:44), al-Tawbah (Q.S. 9:9) dan al-Nahl (Q.S. 16: 95). sebagai “menjual” ayat-ayat Tuhan dengan harga murah. Well done Mrs. Cheryl !!
Ketika segelintir ulama dan cendekiawan Muslim menolak RUU APP, mereka tidak hanya membenarkan gambar-gambar dan tarian atau goyang tabu (baca porno), atau bicara halal haram, moralitas atau akhlak bangsa. Mereka tengah memasarkan paham relativisme, hedonisme dan kebebasan (liberalisme). Ketika Aminah Wadud menjadi imam Jumat di sebuah gereja di Amerika, ia tidak sedang mengaplikasikan ijtihad Fiqhiyyahnya. Ia tengah memasarkan paham gender dan feminisme. Pernyataan seorang anak muda Muslim “semua agama sama benarnya”, “tidak ada syariat Islam, tidak ada hukum Tuhan”, bukan pernyataan tentang teologi atau syariat Islam, tapi pelaksanaan proyek globalisasi biaya tinggi. Buku berjudul “Fiqih Lintas Agama” yang terbit dua tahun silam, bukan buku bacaan tentang Fiqih, tapi buku “pesanan” untuk proyek pluralisme agama.
Betulkah mereka bermaksud begitu? Tentu tidak menurut mereka. Tapi betul menurut teori pemikiran Barat postmodern. Dalam bahasa Gadamer itu disebut effective historical consciousness (kesadaran kesejarahan yang efektif). Mereka memahami realitas segala sesuatu sebatas ruang dan waktu kekinian saja. Mungkin, secara pejoratif bisa disebut ghirah tarikhiyyah, yang tidak sejalan bahkan menggeser dan menggusur ghirah diniyyah..
Menurut bacaan Habermas memang betul begitu. Sebab segala sesuatu harus dipahami berdasarkan motif kepentingan sosial (social interest) yang melibatkan kepentingan kekuasaan (power interest). Pemahaman seperti ini sudah sangat jamak dikalangan aktifis liberal dan postmodernis. Mereka sendiri memahami Islam dengan cara yang sama. Islam bagi mereka adalah produk dari sebuah kepentingan dan kekuasaan. Dan karena itu mereka tidak merasa bersalah jika memahami Islam juga untuk kepentingan tertentu. Itulah yang, kalau boleh saya katakan, politik pemikiran.
Benarkah pemikiran liberal itu sarat kepentingan? Benar ! sebab liberal adalah posmodernis dan posmodernis, tulis Akbar S Ahmed, adalah pendukung pluralisme, anti fundamentalisme, banyak protes terhadap tradisi, dan cara berfikirnya eklektik (Akbar S. Ahmed, Postmodernism). Pemikiran bukan untuk pengetahuan, tapi untuk kepentingan (kekuasaan atau politik). Buktinya dari pemikiran mereka tiba-tiba menggalang komunitas, gerakan sosial dan bahkan menjelma menjadi pressure group. Demi “memasarkan” paham pluralisme agama, misalnya, pertama-tama mereka menolak adanya kebenaran mutlak, yang ada hanya kebenaran relatif. Kepentingannya adalah untuk menghilangkan fundamentalisme dan sikap merasa benar. Inilah politik pemikiran.
Politik Pemikiran
Karena itu adalah politik pemikiran, tak heran jika aktifisnya pun menjadi militan dan terkadang emosional. Substansi pemikirannya sarat dengan muatan politik, buktinya ia bersifat responsif dan akomodatif terhadap suatu kepentingan ideologi tertentu (baca: Barat). Niatnya, nampak tidak tulus karena sikap apriori dan kritis mereka terhadap tradisi pemikiran Islam lebih menonjol ketimbang terhadap Barat. Konsep-konsepnya sulit untuk dikategorikan ke dalam gerakan pembaharuan pemikiran Islam karena sifatnya lebih cenderung destruktif daripada konstruktif.
Ketika suatu pemikiran bernuansa politik, aktifitasnya hampir tidak beda dari gerakan politik. Media grafis, media elektronik, film, musik, aksi sosial dan berbagai media lainnya menjadi kendaraan. Pemikiran bukan di dakwahkan, tapi “dijual” ketengah masyarakat untuk suatu kepentingan. Ketika pemikiran bernuansa politik, pernyataan tentang suatu gagasan selalu bermakna ganda. Antara ucapan, ungkapan atau pernyataan bisa berbeda dari makna yang dimaksud. Bahkan terkadang, mengikuti gaya Derrida, makna yang sudah mapan di dekonstruksi sehingga menjadi bermakna baru.
Untuk mendekonstruksi institusi agama, diperkenalkanlah teori dualisme dan relativisme: agama dan pemikian keagamaan adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama absolut dan yang kedua relatif. Pemikiran ini secara politis ditujukan untuk memberantas sikap-sikap keagamaan ekslusif, fundamentalis dan absolutis. Jika dualisme pemikiran dianut, maka semua pemikiran keagamaan akan menjadi relatif, yang mutlak hanyalah agama dan yang tahu agama hanya Tuhan. Siapapun boleh berfikir tentang apapun dalam soal agama. Tidak ada kebenaran mutlak, tidak ada yang berhak menyalahkan pemikiran orang lain, tidak ada yang bisa mencegah kemunkaran. Tidak ada lembaga atau kelompok yang boleh mengeluarkan fatwa-fatwa keagamaan. Baik buruk, salah benar tergantung kepada individu. Semua bebas. Inilah politik pemikiran. Jika target ini tercapai, maka paham teologi global (global theology) atau teologi dunia (world theology) akan menemukan jalannya menembus semua agama. Inilah kepentingan politik pemikiran itu.
Kalaupun tidak dengan teori dekonstruksinya Derrida, mereka menggunakan metode aliran sophist (indiyah, la adriyah dan inadiyah). Ketika argumentasi mereka tentang kebebasan menafsirkan agama dengan sebebas-bebasnya mulai nampak lemah, misalnya mereka berkelit dan berlindung dibawah prinsip-prinsip HAM. Ketika ide feminisme tidak bisa mendekonstruksi Fiqih, mereka menggunakan dalih perlunya persamaan dan pemberantasan penindasan dan pelecehan terhadap wanita. Targetnya sama, agar di masyarakat tidak ada lagi yang mempunyai otoritas. Tidak ada yang bisa berkuasa karena agama dan agar agama tidak mengisi ruangan publik.
Jika dibaca dengan cermat buku-buku seperti Clash of Civilizations, karya S.Huntington, Who Are We, karya Bernad Lewis, When Religions Become Evil, karya Richard Kimbal, The End of History, karya Fukuyama, Islam Unveiled: Disturbing Question About the World’s Fastest-Growing Faith, karya Robert Spencer dan lain-lain mengandung fakta-fakta pemikiran yang berimplikasi politik. Yang kurang kritis bisa saja menilai buku-buku itu dengan sikap positif. Mungkin alasannya karena asumsinya baru, analisasnya tajam, argumentasinya valid, pertanyaan-pertanyaannya menantang untuk dijawab dan lain sebagainya. Tapi jika ia mencermati implikasi politik dalam semua asumsi, analisa dan argumentasinya maka ia akan menilai dengan sikap sebaliknya.
Karena tidak semua orang dapat menemukan hubungan antara pemikiran dan target politis dibaliknya, maka tidak heran jika diantara umat Islam ada yang bersikap apatis terhadap wacana-wacana pemikiran yang dikenal “liberal” itu. Padahal pemikiran yang politis itulah yang menjadi bahan kekibijakan strategis.
Dari Pemikiran ke Strategi
Untuk mengetahui bagaimana sebuah pemikiran berubah menjadi kebijakan strategis, kita rujuk sebuah buku yang berjudul Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies, (2003), ditulis oleh Cheryl Bernard. Buku ini membahas tentang politik perang pemikiran atau strategi dan taktik pemikiran yang perlu dilakukan Barat untuk menghadapi umat Islam pasca 11 September. Targetnya untuk melawan sesuatu yang tidak jelas “terorisme dan fundamentalisme” dalam Islam. Bahkan setelah menulis buku ini ia menulis buku lain berjudul “U.S. Strategy in the Muslim World After 9/11 (2004), The Muslim World After 9/11 (2004), dan Three Years After: Next Steps in the War on Terror (2005). Sudah tentu tulisan-tulisannya itu merujuk kepada pemikiran, pandangan dan gambaran tentang ummat Islam yang ditulis oleh cendekiawan sebelumnya. Jargon science for science, yang konon dipegang Barat secara konsisten ternyata tidak. Karya-karya tentang Islam yang diwarnai oleh bias kultural dan sentimen keagamaan, misalnya digunakan untuk kepentingan eksploitasi dan bahkan kilonialisasi. Pemikiran sekularisme, demokrasi, liberalisme yang di suntikkan kedalam pemikiran ummat Islam bukanlah murni pemikiran, ia telah berubah bentuk menjadi politik pemikiran. Pemikiran ini tidak menjadi ilmu tapi menjelma menjadi kebijakan politik.
Cheryl Bernard adalah sosiologis yang pernah menulis novel-novel feminis yang memojokkan ulama dan menyatakan wanita dalam Islam itu tertindas. Jilbab menurutnya diambil dari pemahaman yang salah terhadap al-Qur’an, dan merupakan simbol pemaksanaan dan intimidasi. Suaminya adalah Zalmay Khalilzad, blasteran Afghan-Amerika yang menjadi asisten khusus Presiden George W Bush dan Ketua Dewan Keamanan Nasional (National Security Council (NSC) khusus untuk teluk Persia dan Asia Barat-Daya. Selain itu ia pada tahun 1980 bekerja dibawah Paul Wolfowitz pada Policy Planning Council. Pada saat terjadi perang terhadap Iraq tahun 1991, Zalmay menjadi sekretaris menteri pertahanan.
Cheryl Bernard menulis ini dibawah proyek penelitian sebuah lembaga swadaya masyarakat di Amerika lembaga itu bernama Rand Corporation. Sebuah lembaga riset yang mengklaim sebagai lembaga independen yang membuat “analisa obyektif dan solusi efektif terhadap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat ataupun individu diseluruh dunia”. Lembaga ini dibiayai oleh Smith Richardson Foundation. Di lembaga ini Cheril menulis untuk Divisi Riset Keamanan Nasional (National Security Research Division) dimana suaminya bekerja. Tujuan dari buku ini adalah untuk membuat suatu laporan dan usulan dalam rangka membantu kebijakan pemerintah Amerika, khususnya dalam soal pemberantasan ekstrimisme, dan pengembangan bidang sosial, ekonomi, politik melalui proses demokratisasi. Yang jelas divisi ini bertugas memberi saran-saran kepada pemerintah Amerika bagaimana menghadapi “fundamentalisme” dalam Islam dan menyebarkan pemikiran liberal ketengah-tengah umat Islam.
Sebuah saran tentunya berdasarkan pertimbangan dan dasar pemikiran tertentu. Pemikiran mana yang menjadi asasnya, ia pilih sejalan dengan kepentingannya. Berdasarkan pemikiran itu ia memberi masukan kepada pemerintah Amerika, pertama tentang nilai-nilai mana dalam Islam yang bisa diseret kedalam nilai-nilai Amerika. Kedua tentang peta masalah-masalah umat Islam dalam konteks nilai-nilai Amerika. Dan akhirnya muncullah saran-saran agar isu-isu seperti demokrasi dan HAM, poligami, hukuman bagi kriminalitas, keadilan, masalah minoritas, pakaian wanita, hak-hak suami-istri dsb. masuk kedalam pemikiran umat Islam. Saran-saran itu, seperti yang akan lihat dibawah ini, dilaksanakan dengan baik di Indonesia.
Strategi Politik Pemikiran
Politik pemikiran Cheryl nampak jelas ketika ia mengemukakan suatu strategi yang bertujuan untuk merobah dunia Islam agar sesuai dengan “tatanan” dunia internasional kontemporer, Amerika Serikat dan Barat. Tujuannya adalah:
To encourage positive change in the Islamic world toward greater democracy, modernity, and compatibility with the contemporary international world order, the United States and the West need to consider very carefully which elements, trends, and forces within Islam they intend to strengthen (hal x)
Karena tujuannya untuk mem-Barat-kan umat Islam, maka ia hanya memilih elemen-elemen dan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan Barat saja untuk dikembangkan. Ini tentu untuk memuluskan jalannya modernisasi, westernisasi dan Amerikanisasi. Bahkan lebih praktis lagi Bernard menyarankan agar Barat memberikan “bantuan” bagi pengembangan nilai-nilai Barat tersebut kedalam pemikiran ummat Islam. Bantuan itu kini telah mengucur ke berbagai LSM-LSM di Indonesia.
Tidak hanya menyeret nilai-nilai Islam kedalam nilai-nilai Barat, Cheryl Bernard juga membuat kategori kelompok-kelompok umat Islam dengan bahasa kultural Barat. Kelompok Islam dalam laporan itu dibagi menjadi Muslim sekularis, Tradisionalis, fundamentalis dan modernis (dalam kelompok terakhir ini termasuk Muslim liberal). Muslim modernis misalnya, dinisbahkan kepada Muslim yang bekerja untuk Barat dan yang mendukung masyarakat demokratis modern. Sementara itu Muslim fundamentalis radikal (the radical fundamentalists) adalah mereka yang anti demokrasi Barat, nilai-nilai Barat secara umum, dan Amerika Serikat khususnya; pokoknya tujuan dan visi kelompok ini tidak sesuai dengan Barat. Jadi standar klasifikasi ini adalah Barat, dan bukan berdasarkan realitas umat Islam. Memang, inilah strategi pemikiran.
Dari pemikiran dan gambaran tentang umat Islam yang salah itu Cheryl mengusulkan saran-saran strategi pemikiran kepada pemerintah AS. Saran-saran strategis itu dibagi menjadi dua A. Dasar-dasar strategis dan B. akifitas khusus untuk mendukung strategis tsb
Saran-saran strategis yang diberikan Cheryl kepada pemerintah AS adalah sbb: 1) Ciptakan tokoh atau pemimpin panutan yang membawa nilai-nilai modernitas 2) Dukung terciptanya masyarakat sipil (civil society) didunia Islam.3) Kembangkan gagasan Islam warna-warni, seperti Islam Jerman, Islam Amerika, Islam Inggeris dst. 4) Serang terus menerus kalompok fundamentalis dengan cara pembusukan person-personnya melalui media masa. 5) Promosikan nilai-nilai demokrasi Barat modern 6) Tantang kelompok tradisionalis dan fundamentalis dalam soal kemakmuran, keadilan sosial, kesehatan, ketertiban masyarakat dsb. 7) Fokuskan ini semua kepada dunia pendidikan dan generasi muda Muslim.
Untuk memperkuat dan mempercepat pembangunan masyarakat sipil Islam yang demokratis dan modern Cheryl Bernard mengusulkan strategi sbb: 1) Dukunglah kelompok modernis, perluas visi mereka tentang Islam sehingga mengungguli kelompok tradisionalis. Kemudian angkat mereka secara publik sehingga menjadi figure Muslim kontemporer. 2) Dukunglah kelompok sekularis kasus per kasus. 3) Kembangkan lembaga-lembaga dan program-program sekuler dibidang sosial dan kultural 4) Dukung kelompok tradisionalis secukupnya sekedar dapat berlawanan dengan fundamentalis dan dapat menghindari persatuan kedua kelompok ini. 5) Musuhi kelompok fundamentalis secara energik dengan menyerang kelemahan mereka dalam pemahaman dan ideologi keislaman mereka, seperti membuktikan korupsi, kebrutalan, kebodohan, bias mereka dan kesalahan mereka dalam mengamalkan Islam serta ketidak mampuan mereka dalam memimpin dan memerintah.
Untuk mendukung mendukung langkah-langkah strategis tersebut Cheryl juga memberikan saran-saran taktis sbb:
1) Pertama-tama dukung kelompok cendekiawan modernis (liberal). Dorong mereka menulis untuk publik dan anak muda. Terbitkan dan sebarkan kerja-kerja mereka dengan bantuan biaya. Masukkan ide-ide mereka ini kedalam kurikulum pendidikan Islam. Usahakan agar pandangan mereka tentang masalah-masalah mendasar dalam penafsiran agama dapat dibaca oleh masyarakat dan agar berkompetisi dengan kelompok fundamentalis dan tradisionalis.
2) Dukung kelompok tradisionalis dalam menghadapi fundamentalis. Publikasikan kritik-kritik kelompok tradisionalis terhadap tindak kekerasan dan ektrimisme kelompok fundamentalis. Pupuk terus perselisihan antara tradisionalis dan fundamentalis, dan jangan sampai mereka bersatu. Upayakan agar pemikiran tradisionalis mendekati modernis. Kalau perlu didiklah kelompok tradisionalis agar dapat melawan fundamentalis. Fundamentalis biasanya lebih superior dalam retorika, tapi tradisionalis masih agak tertinggal. Tingkatkan jumlah kelompok modernis (liberal) dalam institusi tradisionalis.
3. Hadapi dan lawan fundamentalis. Tantanglah penafsiran mereka tentang Islam dan tunjukkan ketidakakuratannya. Bongkar jaringan mereka dengan kelompok-kelompok illegal. Publikasikan segala konsekuensi dari tindak kekerasan mereka. Tunjukkan juga ketidak mampuan mereka untuk memimpin, untuk mencapai perkembangan positif bagi Negara dan masyarakatnya. Kemudian sebarkan hal ini kepada generasi muda, kepada masyarakat tradisionalis yang taat, minoritas Muslim di Barat dan kepada para wanita. Hindarkan rasa respek atau pemujaan terhadap kekerasan yang dilakukan kelompok fundamentalis, ekstrimis dan teroris. Juluki mereka sebagai pahlawan jahat, penakut dan tidak waras. Doronglah para wartawan untuk menginvestigasi korupsi, kemunafikan dan tindak amoral dalam kelompok fundamentalis dan teroris. Pecah belahlah kelompok fundamentalis.
4. Dukunglah kelompok sekularis dengan secara hati-hati. Dorong kelompok ini agar mengakui fundamentalisme sebagai musuh bersama. Hindarkan agar kelompok sekularis ini tidak beraliansi dengan kekuatan anti AS yang didorong oleh nasionalisme atau ideologi kiri. Dukunglah ide bahwa dalam Islam agama dan Negara dapat dipisahkan dan ini tidak membahayakan keimanan tapi malah memperkuat keimanan. Posisikan sekularisme dan modernisme sebagai pilihan bagi ummat Islam. Upayakan agar dikalangan ummat Islam tumbuh kesadaran dan ketertarikan kepada sejarah dan kultur pra-Islam dan non-Islam. Bantulah kelompok ini dalam mengembangkan organisasi sipil yang independent agar mereka dapat mengembangkan diri melalui proses politik. (hal.48)
Lebih lanjut Cheryl Bernard memberi masukan tentang langkah praktis yang perlu dilakukan untuk mendukung strategi dan taktik diatas. Kegiatan-kegiatan yang ia usulkan adalah sbb: 1) Rebut atau rusaklah "monopoli" kelompok fundamentalis dan tradisionalis dalam menjelaskan dan menafsirkan Islam. 2) Cari kelompok modernis / liberal yang dapat membuat website yang menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku harian dan kemudian menawarkan pendapat Muslim modernis tentang hukum-hukumnya. 3) Doronglah cendekiawan Modernis / liberal untuk menulis buku teks dan mengembangkan kurikulum dan berilah bantuan finansial. 4) Gunakan media regional yang populer, seperti radio, untuk memperkenalkan pemikiran-pemikiran Muslim modernis / liberal agar membuat dunia internasional melek tentang apa arti Islam dan dapat berarti apa Islam itu.
Meski disini tidak dapat dihadirkan bukti bahwa Amerika menerima dan melaksankan saran-saran Cheryl Bernard, tapi kita bisa saksikan saran-saran Cheryl Bernard di implementasikan di Indonesia secara perlahan-lahan tapi pasti. Fenomenanya jelas. Muslim pendukung Barat dipromosikan media masa menjadi tokoh baru. Kini istilah civil socity sudah sering keluar mulut cendekiawan Muslim dan akrab ditelinga mahasiswa. Konsep civil socity pun dianggap sepadan dengan konsep masyarakat madani. Modernis dan Liberal Muslim pendukung Barat adalah pembela aliran “sesat”, atau aliran-aliran sempalan. Muslim yang tidak sejalahn dengan liberal, sekuler, demokrasi Barat, akan segera dicap teroris, fundamentalis dan anti Barat. LSM-LSM kini tidak lagi berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, tapi lebih kepada pembaratan masyarakat. Proposal proyek untuk “mengekspor” kemiskinan masyarakat ke Negara-negara Barat tidak laku lagi. Sementara proposal untuk menjual paham masyarakat sipil, demokrasi, gender, liberalisme, pluralisme agama, multikulturalisme dan semacamnya tidak lagi mencari bantuan Barat, tapi dicari-cari Barat untuk dibantu. Bahkan yang paling keras mengkritik ajaran Islam dan tradisi pemikiran Islam serta membawa gagasan-gagasan “aneh” kini mudah mendapat dana dan biasiswa dari Barat. Inilah barangkali yang disindir al-Baqarah (Q.S. 2:41, 79, 173), Ali Imran (Q.S. 3:77,187, 199), al-Mai’dah (Q.S. 9:44), al-Tawbah (Q.S. 9:9) dan al-Nahl (Q.S. 16: 95). sebagai “menjual” ayat-ayat Tuhan dengan harga murah. Well done Mrs. Cheryl !!
Subscribe to:
Posts (Atom)