Pertarungan pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta akhirnya mengerucut pada dua nama, Fauzi Bowo dan Adang Dorojatun. Fauzi diusung oleh banyak partai, seperti PDIP, Golkar, Demokrat hingga partainya orang kristen PDS. Sementara Komendan Adang diusung sama PKS. Polarisasi ini kemudian oleh beberapa media disebut sebagai pertarungan antara kubu nasionalisme dan kubu Islamis. Benarkah cukup layak disebut sebagai pertarungan ideologi?
Banyak komen yang berlalu lalang di media yang seakan-akan membenarkan sinyalemen diatas, namun tentu bukan hal seperti itu yang mampu mendefinisikan secara kuat adanya pertarungan ideologi ini. Bahkan keberadaan kubu-kubu ini pun perlu dipertanyakan, benarkah ada kubu ideologi Islam dalam Pilkada DKI.
Terkait dengan kubu ideologi Islam, mestinya ditetapkan dulu sebuah kondisi sehingga sebuah kubu bisa disebut kubu ini dan kubu itu. Dalam konteks kubu Islam mestinya minimal ada kondisi berikut :
a. Komitmen sang calon terhadap Islam,penyebarannya dan penerapannya
b. Visi, Misi dan kejelasan program yang secara cristal clear menjadikan Islam sandarannya, tidak sekedar menggunakan ungkapan-ungkapan bias yang bisa diterima semua aqidah dan ideologi, termasuk terutama kesiapan untuk menerapkan Islam sebagai asas dan aturan masyarakat.
Namun,belum apa-apa Pak Adang udah membantah dirinya sebagai penopang ideologi Islamisme (http://www.gatra.com/artikel.php?id=103190), so, calon usungan PKS ini sepertinya cukup berat untuk diharapkan akan menerapkan syariah Islam di DKI jika dia menang, sebagaimana yang banyak diomongin ama banyak orang. Well, dari sini saja polarisasi kedua kubu sebenarnya tidak sejauh utara selatan, bahkan bisa jaraknya sedekat antara selatan dengan tenggara.
Hmmm, sepertinya kubu-kubuan itu gak signifikan deh. Kalau cuma karena ada partai Islamnya mah, di kubu Fauzi Bowo juga ada kok Partai Islamnya seperti PPP, PKB dll, wah, bahkan lebih banyak dibanding yang dimiliki Adang yah !
Disclaimer : Ini adalah blog pribadi, tidak terkait secara struktural dengan organisasi manapun.
Thursday, March 22, 2007
Friday, March 16, 2007
Ekonomi Riil Yang Riil
Triple track, itulah katanya yang menjadi strategi tim ekonomi Boss SBY-JK. Triple yaitu pro job, pro employeee dan pro poor. Mestinya dengan tiga fokus ini, maka kesempatan kerja terbuka, investasi ngalir dan orang miskin berkurang. Inilah mungkin yang menyebabkan juragan Yusuf Kalla berani bilang kalau saat ini sektor riil sudah bergerak (detikfinance.com,15/03/2007)
Sektor riil adalah sektor ekonomi yang melakukan kegiatan ekonomi yang riil, disana terjadi produksi barang beneran atau penawaran jasa, kemudian pasarnya pun jelas, ada pembeli dan penjual yang ber-akad. Kebalikan dengan pasar saham, pasar modal, bursa komoditas dan jenis-jenis pasar siluman lainnya, yang barang jualannya kaga jelas rupanya, pembelinya juga kaga ketauan turunan orang apa turunan jin,traksaksinya pun kaga jelas akadnya.
Maka harapan untuk terjadinya triple track tadi memang ada di sektor riil, karena sektor riil jelas-jelas menuntut adanya kegiatan produksi dan penawaran barang serta jasa yang riil yang membutuhkan tenaga kerja. Agar penyerapan tenaga kerja bisa tingga maka dibutuhkan banyak perusahaan yang menghasilkan barang dan jasa, yang berarti dibutuhkan banyak investasi. Nah, kalau semua berjalan normal, perusahaan riil banyak, tenaga kerja terserap, angka kemiskinanpun bisa dikurangi. So, mestinya inilah yang menjadi tanda apakah sektor riil sudah bergerak, yaitu :
a. Banyak investasi masuk
b. Pengangguran makin dikit
c. Yang blangsa dan hidupnya susah makin berkurang
Maka kemudian bisa dipertanyakan, kok bisa-bisanya juragan JK ngomong sektor riil sudah bergerak, padahal:
a. Investor ogah-ogahan nanam modal
b. Pengangguran malih makin meningkat, tahun 2006 aja ada 10,9 juta, dan tahun ini
diperkiran nambah lagi jadi 2,5 juta orang.(Republika, 16/3/2007)
c. Angka kemiskinan, siapa yang bilang turun? kecuali kalau pemerintah sekarang masih
seneng pake data yang sudah basi
Sektor riil adalah sektor ekonomi yang melakukan kegiatan ekonomi yang riil, disana terjadi produksi barang beneran atau penawaran jasa, kemudian pasarnya pun jelas, ada pembeli dan penjual yang ber-akad. Kebalikan dengan pasar saham, pasar modal, bursa komoditas dan jenis-jenis pasar siluman lainnya, yang barang jualannya kaga jelas rupanya, pembelinya juga kaga ketauan turunan orang apa turunan jin,traksaksinya pun kaga jelas akadnya.
Maka harapan untuk terjadinya triple track tadi memang ada di sektor riil, karena sektor riil jelas-jelas menuntut adanya kegiatan produksi dan penawaran barang serta jasa yang riil yang membutuhkan tenaga kerja. Agar penyerapan tenaga kerja bisa tingga maka dibutuhkan banyak perusahaan yang menghasilkan barang dan jasa, yang berarti dibutuhkan banyak investasi. Nah, kalau semua berjalan normal, perusahaan riil banyak, tenaga kerja terserap, angka kemiskinanpun bisa dikurangi. So, mestinya inilah yang menjadi tanda apakah sektor riil sudah bergerak, yaitu :
a. Banyak investasi masuk
b. Pengangguran makin dikit
c. Yang blangsa dan hidupnya susah makin berkurang
Maka kemudian bisa dipertanyakan, kok bisa-bisanya juragan JK ngomong sektor riil sudah bergerak, padahal:
a. Investor ogah-ogahan nanam modal
b. Pengangguran malih makin meningkat, tahun 2006 aja ada 10,9 juta, dan tahun ini
diperkiran nambah lagi jadi 2,5 juta orang.(Republika, 16/3/2007)
c. Angka kemiskinan, siapa yang bilang turun? kecuali kalau pemerintah sekarang masih
seneng pake data yang sudah basi
Tuesday, March 13, 2007
Apa Kabar Hambali?
Selasa kemaren (13/3/2007), Bossnya BIN bilang, dia pengen Hambali bisa diperiksa oleh petugas kepolisian Indonesia. Hambali yang saat ini "katanya" sedang ditahan di Guantanamo, salah satu lokasi penjara kejam milik Amerika. Hambali yang ditangkap di Thailand ini (katanya lagi nih), memang tidak dizinkan oleh Amerika untuk dibawa ke Indonesia, walaupun si Hambali,kalau bener nih, adalah orang Indonesia dan melakukan kejahatan teroris di Indonesia pulak.
Inilah keanehan yang keterlaluan ditunjukkan oleh Amerika Serikat. Hambali, yang bagi seluruh rakyat indonesia adalah misteri tidak diperkenankan dibawa ke Indonesia,padahal secara setia, pejabat keamanan Indonesia selalu menyampaikan bahwa dalang teror di Indonesia adalah hambali, selain DR. Azhari. Wajar dong, kalau orang Indonesia pengen sang "penjahat teror" teror dibawa ke Indonesia dan diadili disini.Namun itulah, pejabat keamanan Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa.
Efek dari hal ini adalah sangat wajar orang kemudian membenarkan dugaan bahwa sesungguhnya Hambali adalah planted agent alias agen yang ditanam, yang kemudian ditarik kembali oleh induk semangnya setelah menyelesaikan misinya. Apa tugasnya? sebagai planted agent, dia berfungsi untuk bergerak ditengah-tengah gerakan Islam, dan kemudian melakukan edukasi dan provokasi agar melakukan tindakan-tindakan yang nantinya secara general akan membuat jelek citra perjuangan penegakkan Islam. Bukan sekedar berdampak pada citra, hasil lainnya adalah, pihak Amerika semakin menemukan alasan untuk menekan pemerintah untuk agar mengendalikan keberadaan gerakan-gerakan Islam yang ada. Mengendalikan? yup, bisa dengan memata-matai, menangkapi, menembaki, membunuhi dan tindakan-tindakan lain yang dianggap perlu untuk memberangus teroris. Celakanya, pemerintah sekarang terlalu lemah dihadapan Amerika. Bahkan saya menduga Bush adalah kebanggaan dari kepala negara sekarang. Dari sekian banyak pertemuan dengan berbagai kepala negara, SBY hanya memajang fotonya dengan Bush diruang kerjanya. Lah, tau dari mana? dari Intelijen ya? hehehe...kaga Boss, salahin tuh SBY sendiri, ngapain dia ngebolehin kameraman TV swasta ngeshot ruang kerjanya, waktu dia lagi menerima kunjungan anak-anak SD.
Well, kembali kepermasalahan Hambali. Walaupun nanti dia diperbolehkan diperiksa oleh FBI, paling-paling petugas Polri hanya diperbolehkan melakukan pemeriksaan sebagaimana yang dilakukan pada Umar Faruq, yaitu :
a. Kagak ketemu langsung
b. Pertanyaan dititipin doang ama petugas amarika
c. Pertanyaan dengan jawaban kaya anak sekolahan ujian : ya atau tidak
Lah, kaya gini ni, gimana kagak bikin curiga Oom. Well, tentu saja kita sangat berharap Hambali akhirnya bisa diperiksa langsung, bukan di AS tapi di sini, di negerinya, ditempat dimana--kalau bener nih--melakukan kejahatan. Kita tunggu saja, bisa kaga aparat negara yang katanya berdaulat ini bisa melakukan hal tersebut. Atau lagi-lagi berlaku seperti yang lalu,sami'na wa atha'na kepada AS, dan kemudian seiring berjalannya waktu, sang agen yang sudah habis masa edarnya tsb dihilangkan dengan berbagai cara, dibilangin sakit, bunuh diri, atau melarikan diri secara mustahil dari penjara yang setiap meternya diawasi (kaga kaya cipinang lah), seperti agen sebelumnya, Umar Faruq
Inilah keanehan yang keterlaluan ditunjukkan oleh Amerika Serikat. Hambali, yang bagi seluruh rakyat indonesia adalah misteri tidak diperkenankan dibawa ke Indonesia,padahal secara setia, pejabat keamanan Indonesia selalu menyampaikan bahwa dalang teror di Indonesia adalah hambali, selain DR. Azhari. Wajar dong, kalau orang Indonesia pengen sang "penjahat teror" teror dibawa ke Indonesia dan diadili disini.Namun itulah, pejabat keamanan Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa.
Efek dari hal ini adalah sangat wajar orang kemudian membenarkan dugaan bahwa sesungguhnya Hambali adalah planted agent alias agen yang ditanam, yang kemudian ditarik kembali oleh induk semangnya setelah menyelesaikan misinya. Apa tugasnya? sebagai planted agent, dia berfungsi untuk bergerak ditengah-tengah gerakan Islam, dan kemudian melakukan edukasi dan provokasi agar melakukan tindakan-tindakan yang nantinya secara general akan membuat jelek citra perjuangan penegakkan Islam. Bukan sekedar berdampak pada citra, hasil lainnya adalah, pihak Amerika semakin menemukan alasan untuk menekan pemerintah untuk agar mengendalikan keberadaan gerakan-gerakan Islam yang ada. Mengendalikan? yup, bisa dengan memata-matai, menangkapi, menembaki, membunuhi dan tindakan-tindakan lain yang dianggap perlu untuk memberangus teroris. Celakanya, pemerintah sekarang terlalu lemah dihadapan Amerika. Bahkan saya menduga Bush adalah kebanggaan dari kepala negara sekarang. Dari sekian banyak pertemuan dengan berbagai kepala negara, SBY hanya memajang fotonya dengan Bush diruang kerjanya. Lah, tau dari mana? dari Intelijen ya? hehehe...kaga Boss, salahin tuh SBY sendiri, ngapain dia ngebolehin kameraman TV swasta ngeshot ruang kerjanya, waktu dia lagi menerima kunjungan anak-anak SD.
Well, kembali kepermasalahan Hambali. Walaupun nanti dia diperbolehkan diperiksa oleh FBI, paling-paling petugas Polri hanya diperbolehkan melakukan pemeriksaan sebagaimana yang dilakukan pada Umar Faruq, yaitu :
a. Kagak ketemu langsung
b. Pertanyaan dititipin doang ama petugas amarika
c. Pertanyaan dengan jawaban kaya anak sekolahan ujian : ya atau tidak
Lah, kaya gini ni, gimana kagak bikin curiga Oom. Well, tentu saja kita sangat berharap Hambali akhirnya bisa diperiksa langsung, bukan di AS tapi di sini, di negerinya, ditempat dimana--kalau bener nih--melakukan kejahatan. Kita tunggu saja, bisa kaga aparat negara yang katanya berdaulat ini bisa melakukan hal tersebut. Atau lagi-lagi berlaku seperti yang lalu,sami'na wa atha'na kepada AS, dan kemudian seiring berjalannya waktu, sang agen yang sudah habis masa edarnya tsb dihilangkan dengan berbagai cara, dibilangin sakit, bunuh diri, atau melarikan diri secara mustahil dari penjara yang setiap meternya diawasi (kaga kaya cipinang lah), seperti agen sebelumnya, Umar Faruq
Monday, March 12, 2007
Pujian Amerika, Senyuman Musdah Mulia
Hidayatullah.com—Meronalah wajah Siti Musdah Muliah. Ia mengaku terperanjat mendengar namanya disebut-sebut Amerika. Bukan apa-apa, siapa tak kenal Amerika? Kampiun demokrasi, sang polisi dunia yang sangat ternama.
“Saya hanya diberi waktu satu hari untuk mengurus visa dan berbenah sebelum terbang ke Amerika," ujarnya dikutip Antara di Washington DC, sesaat sebelum menerima penghargaan dari Menteri Luar Negeri Amerika, Condoleezza Rice.
Senang dan terkejut mungkin campur jadi satu. Apalagi ketika kedutaan Amerika Serikat di Jakarta menghubunginya dan mengatakan, dirinya dianggap terpilih menjadi satu-satunya wanita di Indonesia yang mendapatkan penghargaan dari Amerika Serikat.
Ia, katanya dianggap sukses menyuarakan, membela dan mengembalikan hak perempuan di mata agama dengan cara melakukan 'pembaruan hukum Islam' –termasuk-- undang-undang perkawinan.
Karena itulah, pada Hari Perempuan Dunia tanggal 8 Maret kemarin, Musdah menerima penghargaan International Women of Courage dari Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice di kantor kementerian luar negeri Amerika Serikat (AS), Washington.
Tapi Musdah bukan satu-satunya penerima penghargaan. Masih banyak wanita lain menerimanya. Diantaranya dari kawasan Asia Pasifik. Ada yang dari Zimbabwe, Latvia, Arab Saudi, Argentina, Maladewa, dua orang dari Afganistan, dan dua dari Iraq.
Penghargaan tahunan tersebut pertama kali diberikan pemerintah Amerika Serikat kepada perempuan dunia. Katanya, 'yang dianggap berani membuat perubahan demi kemajuan perempuan di negaranya'.
Musdah, adalah salah satua dari 100 wanita yang terpilih dari 100 nama yang diusulkan di seluruh dunia. "Saya hanya ingin mengembalikan prinsip Islam, yang humanis dan ramah terhadap perempuan," kata Musdah seolah merendah.
Dalam pidato sambutannya, Condoleezza Rice mengatakan, perjuangan untuk mendapatkan kesetaraan jender tidak mudah. Negara demokrasi, seperti, Amerika Serikat pun, membutuhkan waktu lebih dari 130 tahun untuk memberikan hak pilih bagi perempuan.
Bergerilya
Siti Musdah Mulia adalah salah satu tokoh Islam Liberal yang pernah bikin heboh di Indonesia ketika mengusulkan counter legal draft Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI) sekitar tahun 2004.
Counter Legal Draft (CLD) Kompilasi Hukum Islam ini dinilai banyak kaum Muslim 'melabrak' pemahaman tentang hukum perkawinan, waris, dan wakaf dalam Islam.
Diantara teks-teks krusial yang diusulan Tim Musdah Mulia ketika itu antara lain; disebutkan bahwa pernikahan bukan ibadah, perempuan boleh menikahkan dirinya sendiri, poligami haram, boleh nikah beda agama, boleh kawin kontrak, ijab kabul bukan rukun nikah dan anak kecil bebas memilih agamanya sendiri. Pendekatan gender, pluralisme, HAM dan demokrasi bukanlah pendekatan hukum Islam.
Tentu saja bukan sepi masalah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut draft ini sebagai bid’ah (penyimpangan) dan taghyir (perubahan) dari hukum Islam. MUI menyebut CLD-KHI sebagai upaya memanipulasi nash-nash Al-Qur’an.
Tak urung, kasus ini membuat Menteri Agama saat itu, Prof. DR. H. Said Agiel Al Munawar, menyampaikan teguran keras kepada Tim Penulis Pembaruan Hukum Islam, melalui suratnya tanggal 12 Oktober 2004, No.: MA/271/2004, untuk tidak lagi mengulangi mengadakan seminar atau kegiatan serupa dengan mengatasnamakan tim Departemen Agama dan semua Draft CLD-KHI agar diserahkan kepada Menteri Agama RI.
Bahkan Menteri Agama RI yang baru, Maftuh Basyuni langsung membatalkan CLD-KHI pada tanggal 14 Februari 2005. Dan Siti Musdah Mulia sebagai Ketua Tim Penyusun CLD-KHI dilarang pemerintah menyebarluaskan gagasannya.
Berhentikah Musdah? Tentu saja tidak. Ia bersama kawan-kawannya yang se ide–tentu saja dibantu The Asia Foundation lembaga donasi dari Amerika yang sering mendukung gagasan liberalisme-- terus mengasongkan gagasannya. Ia bahkan muncul kembali bersama para penulis buku Fiqih Lintas Agama. Yang oleh sebagian kaum Muslim dianggap banyak membuang makna teks dan menggunakan aspek konteks secara amburadul.
Dengan pujian Amerika yang baru saja ia sandang, nampaknya menjadi spirit baru Musdah untuk terus bergerilya. Walau, ia sesungguhnya tau, dampaknya, ia harus berhadapan dengan kaum Muslim di Negerinya sendiri.
"Pemahaman saya sering dicap terlalu kebarat-baratan dan saya tidak akan terkejut, sekembali dari Amerika Serikat, saya akan dicap sebagai antek Amerika," kata Musdah seolah telah siap dengan segala resikonya.
Tenar Setelah “Menghujat”
Kasus Musdah Mulia bukanlah hal baru. Khususnya Amerika dan Barat, pujian-pujian serupa ibarat permen yang akan terus diberikan disaat dibutuhkan.
Sebelum Musdah, ada nama Salman Rusdie dengan The Satanic Verses nya. Juga Irshad Manji, seorang warga Muslim asal Kanada yang kini tinggal di Belanda. Namanya begitu tenar setelah gagasannya yang mengatakan, cendekiawan Barat seharusnya tidak takut lagi mengkritik Islam.
Irsyad Manji adalah seorang aktivis yang juga penganut lesbianisme. Manji begitu tenar dan dipuja sebagai pahlawan di dunia Barat karena kritik agresif mereka terhadap Islam. Meski Manji begitu menyakit perasaan kaumnya sendiri, di dunia Muslim.
Bagi pers asing, Manji dianggap ‘seorang provokator berjalan untuk Islam tradisional’. Tahun 2003 ia mempublikasikan bukunya "The Trouble with Islam Today". Isinya banyak menghujat Islam.
Sebelumnya ada nama Nasr Hamid Abu Zayd, intelektual muslim asal Mesir. Nasr Hamid Abu Zayd adalah pemikir liberal Mesir yang dihukumi 'murtad' oleh 2000 ulama Mesir atas beberapa pemikirannya yang cukup berbahaya. Ia kemudian lari di tampung di Negeri Belanda. Di sana, ia kemudian diberi puja-puji. Dan semakin liarlah pemikirannya.
Tapi itu hanya permulaan, kata cendekiawan Muslim Adian Husaini. Sebab, masih akan banyak nama yang akan menerima penghargaan oleh Amerika dan Barat di masa depan. Mengutip pepatah Arab, Adian mengatakan, “Khaalif, tu’raf!.” Jika ingin terkenal, gampang saja. Berfikirlah nyleneh!. Nah, boleh jadi Amerika juga akan mengundang Inul sebagaimana Musdah Mulia. [cholis akbar/hidayatullah.com]
“Saya hanya diberi waktu satu hari untuk mengurus visa dan berbenah sebelum terbang ke Amerika," ujarnya dikutip Antara di Washington DC, sesaat sebelum menerima penghargaan dari Menteri Luar Negeri Amerika, Condoleezza Rice.
Senang dan terkejut mungkin campur jadi satu. Apalagi ketika kedutaan Amerika Serikat di Jakarta menghubunginya dan mengatakan, dirinya dianggap terpilih menjadi satu-satunya wanita di Indonesia yang mendapatkan penghargaan dari Amerika Serikat.
Ia, katanya dianggap sukses menyuarakan, membela dan mengembalikan hak perempuan di mata agama dengan cara melakukan 'pembaruan hukum Islam' –termasuk-- undang-undang perkawinan.
Karena itulah, pada Hari Perempuan Dunia tanggal 8 Maret kemarin, Musdah menerima penghargaan International Women of Courage dari Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice di kantor kementerian luar negeri Amerika Serikat (AS), Washington.
Tapi Musdah bukan satu-satunya penerima penghargaan. Masih banyak wanita lain menerimanya. Diantaranya dari kawasan Asia Pasifik. Ada yang dari Zimbabwe, Latvia, Arab Saudi, Argentina, Maladewa, dua orang dari Afganistan, dan dua dari Iraq.
Penghargaan tahunan tersebut pertama kali diberikan pemerintah Amerika Serikat kepada perempuan dunia. Katanya, 'yang dianggap berani membuat perubahan demi kemajuan perempuan di negaranya'.
Musdah, adalah salah satua dari 100 wanita yang terpilih dari 100 nama yang diusulkan di seluruh dunia. "Saya hanya ingin mengembalikan prinsip Islam, yang humanis dan ramah terhadap perempuan," kata Musdah seolah merendah.
Dalam pidato sambutannya, Condoleezza Rice mengatakan, perjuangan untuk mendapatkan kesetaraan jender tidak mudah. Negara demokrasi, seperti, Amerika Serikat pun, membutuhkan waktu lebih dari 130 tahun untuk memberikan hak pilih bagi perempuan.
Bergerilya
Siti Musdah Mulia adalah salah satu tokoh Islam Liberal yang pernah bikin heboh di Indonesia ketika mengusulkan counter legal draft Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI) sekitar tahun 2004.
Counter Legal Draft (CLD) Kompilasi Hukum Islam ini dinilai banyak kaum Muslim 'melabrak' pemahaman tentang hukum perkawinan, waris, dan wakaf dalam Islam.
Diantara teks-teks krusial yang diusulan Tim Musdah Mulia ketika itu antara lain; disebutkan bahwa pernikahan bukan ibadah, perempuan boleh menikahkan dirinya sendiri, poligami haram, boleh nikah beda agama, boleh kawin kontrak, ijab kabul bukan rukun nikah dan anak kecil bebas memilih agamanya sendiri. Pendekatan gender, pluralisme, HAM dan demokrasi bukanlah pendekatan hukum Islam.
Tentu saja bukan sepi masalah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut draft ini sebagai bid’ah (penyimpangan) dan taghyir (perubahan) dari hukum Islam. MUI menyebut CLD-KHI sebagai upaya memanipulasi nash-nash Al-Qur’an.
Tak urung, kasus ini membuat Menteri Agama saat itu, Prof. DR. H. Said Agiel Al Munawar, menyampaikan teguran keras kepada Tim Penulis Pembaruan Hukum Islam, melalui suratnya tanggal 12 Oktober 2004, No.: MA/271/2004, untuk tidak lagi mengulangi mengadakan seminar atau kegiatan serupa dengan mengatasnamakan tim Departemen Agama dan semua Draft CLD-KHI agar diserahkan kepada Menteri Agama RI.
Bahkan Menteri Agama RI yang baru, Maftuh Basyuni langsung membatalkan CLD-KHI pada tanggal 14 Februari 2005. Dan Siti Musdah Mulia sebagai Ketua Tim Penyusun CLD-KHI dilarang pemerintah menyebarluaskan gagasannya.
Berhentikah Musdah? Tentu saja tidak. Ia bersama kawan-kawannya yang se ide–tentu saja dibantu The Asia Foundation lembaga donasi dari Amerika yang sering mendukung gagasan liberalisme-- terus mengasongkan gagasannya. Ia bahkan muncul kembali bersama para penulis buku Fiqih Lintas Agama. Yang oleh sebagian kaum Muslim dianggap banyak membuang makna teks dan menggunakan aspek konteks secara amburadul.
Dengan pujian Amerika yang baru saja ia sandang, nampaknya menjadi spirit baru Musdah untuk terus bergerilya. Walau, ia sesungguhnya tau, dampaknya, ia harus berhadapan dengan kaum Muslim di Negerinya sendiri.
"Pemahaman saya sering dicap terlalu kebarat-baratan dan saya tidak akan terkejut, sekembali dari Amerika Serikat, saya akan dicap sebagai antek Amerika," kata Musdah seolah telah siap dengan segala resikonya.
Tenar Setelah “Menghujat”
Kasus Musdah Mulia bukanlah hal baru. Khususnya Amerika dan Barat, pujian-pujian serupa ibarat permen yang akan terus diberikan disaat dibutuhkan.
Sebelum Musdah, ada nama Salman Rusdie dengan The Satanic Verses nya. Juga Irshad Manji, seorang warga Muslim asal Kanada yang kini tinggal di Belanda. Namanya begitu tenar setelah gagasannya yang mengatakan, cendekiawan Barat seharusnya tidak takut lagi mengkritik Islam.
Irsyad Manji adalah seorang aktivis yang juga penganut lesbianisme. Manji begitu tenar dan dipuja sebagai pahlawan di dunia Barat karena kritik agresif mereka terhadap Islam. Meski Manji begitu menyakit perasaan kaumnya sendiri, di dunia Muslim.
Bagi pers asing, Manji dianggap ‘seorang provokator berjalan untuk Islam tradisional’. Tahun 2003 ia mempublikasikan bukunya "The Trouble with Islam Today". Isinya banyak menghujat Islam.
Sebelumnya ada nama Nasr Hamid Abu Zayd, intelektual muslim asal Mesir. Nasr Hamid Abu Zayd adalah pemikir liberal Mesir yang dihukumi 'murtad' oleh 2000 ulama Mesir atas beberapa pemikirannya yang cukup berbahaya. Ia kemudian lari di tampung di Negeri Belanda. Di sana, ia kemudian diberi puja-puji. Dan semakin liarlah pemikirannya.
Tapi itu hanya permulaan, kata cendekiawan Muslim Adian Husaini. Sebab, masih akan banyak nama yang akan menerima penghargaan oleh Amerika dan Barat di masa depan. Mengutip pepatah Arab, Adian mengatakan, “Khaalif, tu’raf!.” Jika ingin terkenal, gampang saja. Berfikirlah nyleneh!. Nah, boleh jadi Amerika juga akan mengundang Inul sebagaimana Musdah Mulia. [cholis akbar/hidayatullah.com]
Thursday, March 8, 2007
Naik Pesawat, Yang Murah Atau Yang Mahal?
Waktu saya lagi nyari tiket buat dinas ke daerah teman saya ngomong kek gini :"naek pesawat yg mahal, jangan yang murah, ntar kaya adam lho". Pasca kecelakaan adam, kengerian terhadap pesawat low cost memang menerpa berbagai kalangan, terutama para penggede, boss2 dan orang penting lainnya. Beragam masalah sebenarnya sudah terjadi, dan bukan cuma dialami adam air tapi juga oleh maskapai lain seperti Lion, Batavia dan lainnya.
Mulai dari tergelincir dari bandara, nyungsep kesawah, nyasar, punggung bengkok dan tentu yang paling fenomenal, tenggelam di laut tanpa pernah ketauan lagi rupanya. Maka tersebutlah garuda sebagai pesawat yang teraman. Komen kek gini bukan tanpa dasar memang. Maintenance Garuda kabarnya tergolong paling top. Apalagi ditunjang dengan fasilitas perawatan sendiri, Garuda Facility Maintenance. Udah gitu, awaknya juga rata-rata jago-jago. Dan memang waktu nyoba sendiri, berasa kalo supirnya Garuda lebih enak bawa pesawat, pas landingnya terutama, beda sekali dengan maskapai lain, garuda yang saya naikin landing smooth gitu...
But, semua jadi terkoreksi, sang maestropun mengalami nasib sebagaimana para juniornya. Semua masih menebak-nebak kenapa si garuda bisa mengalami nasib tragis. Mulai dari human factor, engine factor sampai yang paling nyol-konyol, sabotase. Dan untuk yang terakhir ini sampai-sampai abang intel kita, Syamsir Siregar bossnya BIN perlu dilibatkan untuk menyelidikinya.
Well, sekarang kalo mau mesen tiket pesawat,menurut saya bukan yang mahal mahal atau yang murah, tapi yang tawakkal
Mulai dari tergelincir dari bandara, nyungsep kesawah, nyasar, punggung bengkok dan tentu yang paling fenomenal, tenggelam di laut tanpa pernah ketauan lagi rupanya. Maka tersebutlah garuda sebagai pesawat yang teraman. Komen kek gini bukan tanpa dasar memang. Maintenance Garuda kabarnya tergolong paling top. Apalagi ditunjang dengan fasilitas perawatan sendiri, Garuda Facility Maintenance. Udah gitu, awaknya juga rata-rata jago-jago. Dan memang waktu nyoba sendiri, berasa kalo supirnya Garuda lebih enak bawa pesawat, pas landingnya terutama, beda sekali dengan maskapai lain, garuda yang saya naikin landing smooth gitu...
But, semua jadi terkoreksi, sang maestropun mengalami nasib sebagaimana para juniornya. Semua masih menebak-nebak kenapa si garuda bisa mengalami nasib tragis. Mulai dari human factor, engine factor sampai yang paling nyol-konyol, sabotase. Dan untuk yang terakhir ini sampai-sampai abang intel kita, Syamsir Siregar bossnya BIN perlu dilibatkan untuk menyelidikinya.
Well, sekarang kalo mau mesen tiket pesawat,menurut saya bukan yang mahal mahal atau yang murah, tapi yang tawakkal
Subscribe to:
Posts (Atom)